Menyikapi Saudara yang Enggan Sholat

Posted at June 25, 2019 by detikilmu123 on category Tanya Jawab

Asy-Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz رَحِمَهُ اللهُ ditanya:

Aku memiliki seorang adik lelaki yang telah mencapai usia balig, dia meninggalkan shalat, dia tidak pernah mengerjakan shalat kecuali shalat jum’at. Aku telah menasehatinya namun tidak berfaedah. Apa yang harus Aku lakukan dalam menghadapinya. Aku berharap diberi faedah, semoga Allah َّعَزَّ وَجَل membalasmu kebaikan?

Beliau menjawab:

Yang wajib bagimu adalah menasehatinya, dan berulang kali dalam melakukannya, serta bersungguh- sungguh padanya, semoga Allah َّعَزَّ وَجَل memberinya hidayah melalui sebab- sebabnya, dan jangan engkau merasa bosan dan berputus asa. Sebab seorang muslim wajib menasehati orang lain dan membimbingnya. Allah َّعَزَّ وَجَل berfirman:

{ ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ }

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.

Allah َّعَزَّ وَجَل juga berfirman:

{ وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِين }

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”

Berbuat baiklah kepadanya dengan memberi nasehat dan bersungguh- sungguh , dan itu dilakukan dengan penuh kejujuran dan perhatian. Engkau jelaskan kepadanya bahwa meninggalkan shalat merupakan kekafiran dan kesesatan, dan yang wajib bagi setiap muslim yang balig untuk bertakwa kepada Allah َّعَزَّ وَجَل , dan hendaknya menegakkan shalat jika dia mengaku sebagai seorang muslim. Jika tidak, maka pengakuannya terhadap Islam tidaklah benar.

Sesungguhnya keislamannya yang tanpa disertai shalat, bukanlah Islam . Rasulullah َصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى آلِهِ وَسَلَّم bersabda:

“Pembatas antara seseorang dengan kekafiran dan kesyirikan adalah meninggalkan shalat.”

HR. Muslim dalam sahihnya.

Rasulullah َصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى آلِهِ وَسَلَّم juga bersabda:

“Perjanjian antara kami dengan mereka (kaum kuffar) adalah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkannya maka sungguh dia telah kafir.”

Maka wajib bagi saudaramu untuk bertakwa kepada Allah َّعَزَّ وَجَل dan mengerjakan shalat. Dan hendaknya engkau banyak menasehatinya semoga Allah َّعَزَّ وَجَل memberi hidayah kepadanya melalui sebab- sebabnya. Apabila dia tetap ngeyel dan tidak peduli, maka hendaknya engkau memboikotnya jika boikot tersebut lebih memberi kemaslahatan. Jika engkau memandang bahwa tidak memboikotnya itu lebih maslahat, dan engkau terus mengajaknya dan memberikan bimbingan, disertai dengan kebencian terhadap perbuatannya dan menampakkan kebencian tersebut, dan marah atas perbuatannya, semoga Allah َّعَزَّ وَجَل memberinya hidayah melalui sebab- sebabnya.

Jika engkau memandang bahwa memboikotnya lebih maslahat, dan menjauhinya, disebabkan karena dia tidak menuruti dan menerima nasehat, dan engkau berharap bahwa boikot tersebut memberi pengaruh padanya, semoga saja Allah َّعَزَّ وَجَل memberi hidayah kepadanya melalui sebab- sebabnya, maka boikot lah dia, sebab boikot yang memberi manfaat itu merupakan hal yang dituntut dan disyariatkan.

([http://binbaz.org.sa/noor/5551]



Related Posts to Menyikapi Saudara yang Enggan Sholat