TpY8Tfd7TUzpTSzpBSz6BUO5Td==

Ketika Siswa Lebih Percaya TikTok daripada Buku: Tantangan Literasi Digital di Madrasah

 Oleh: Ikhsan Suryo, M.Pd

(Guru MIS MI Al Hasan Mulyadadi Cipari, Alumnus Pasca Sarjana MPAI UNISSULA Semarang)

Ada pemandangan yang semakin akrab dalam kehidupan pelajar hari ini. Ketika ingin mengetahui sesuatu, tangan mereka lebih cepat membuka ponsel daripada membuka buku. Pertanyaan yang dahulu mungkin dijawab dengan membaca buku atau bertanya kepada guru, kini cukup diketik di mesin pencari atau dicari melalui media sosial.

 

TikTok, YouTube, Instagram, dan berbagai platform digital lainnya telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari generasi muda. Informasi datang dalam bentuk video singkat, gambar menarik, dan bahasa yang sederhana. Tidak mengherankan jika media sosial sering terasa lebih menarik dibandingkan buku pelajaran yang penuh teks.

 

Bagi madrasah, fenomena ini bukan sekadar persoalan kebiasaan menggunakan gawai. Di baliknya terdapat tantangan besar dalam membangun literasi digital peserta didik.

 

Informasi Cepat, Belum Tentu Tepat


Media sosial memiliki keunggulan dalam menyampaikan informasi secara cepat dan menarik. Dalam hitungan detik, siswa dapat menemukan berbagai video tentang agama, sejarah, sains, pendidikan, bahkan persoalan kehidupan sehari-hari.

 

Masalahnya, tidak semua informasi yang terlihat meyakinkan di media sosial dapat dipercaya.

 

Video dengan jutaan penonton belum tentu memiliki informasi yang benar. Akun dengan banyak pengikut juga tidak otomatis memiliki kompetensi pada bidang yang dibicarakan. 


Bahkan, informasi yang salah dapat dikemas dengan sangat menarik sehingga lebih mudah dipercaya daripada informasi yang benar tetapi disampaikan secara kurang menarik. Di sinilah persoalan literasi digital menjadi penting.

 

Siswa tidak cukup hanya diajarkan bagaimana mencari informasi. Mereka juga harus memiliki kemampuan untuk menilai, membandingkan, memeriksa, dan memahami sumber informasi.

 

Buku Tidak Boleh Kalah, tetapi Harus Berubah


Ketika siswa lebih memilih video pendek daripada buku, bukan berarti buku harus ditinggalkan. Buku tetap memiliki peran penting dalam membangun pengetahuan yang lebih sistematis dan mendalam.

 

Namun, cara madrasah menghadirkan buku dan sumber belajar juga perlu beradaptasi dengan perubahan kebiasaan belajar generasi digital.

 

Materi dalam buku dapat dikembangkan menjadi bahan pembelajaran digital. Guru dapat menggabungkan buku dengan video, infografis, podcast, kuis interaktif, maupun sumber digital lainnya.

 

Dengan cara tersebut, siswa tidak diarahkan untuk memilih antara buku atau teknologi. Mereka justru diajak menggunakan keduanya secara tepat.

 

Buku dapat menjadi sumber utama untuk memahami materi secara mendalam, sementara media digital dapat menjadi pintu masuk untuk membangun rasa ingin tahu.

 

Jangan Hanya Melarang Penggunaan Ponsel


Salah satu respons yang sering muncul ketika membicarakan penggunaan media sosial oleh siswa adalah larangan membawa atau menggunakan ponsel di sekolah.

 

Dalam kondisi tertentu, aturan pembatasan memang diperlukan. Namun, pendidikan literasi digital tidak cukup hanya dengan melarang. Siswa perlu memahami mengapa penggunaan teknologi harus dilakukan secara bijak.

 

Mereka perlu belajar membedakan informasi, mengenali sumber yang kredibel, memahami konteks sebuah berita, memeriksa tanggal dan asal informasi, serta tidak terburu-buru membagikan sesuatu hanya karena kontennya menarik.

 

Dengan demikian, tujuan pendidikan bukan menciptakan siswa yang takut menggunakan internet, melainkan siswa yang mampu menggunakan internet secara cerdas dan bertanggung jawab.

 

Tantangan Pembelajaran Akhlak di Dunia Digital


Bagi madrasah, persoalan literasi digital memiliki dimensi yang lebih luas karena berkaitan dengan pendidikan akhlak.

 

Akhlak tidak hanya terlihat ketika siswa berbicara dengan guru atau berinteraksi dengan teman di sekolah. Akhlak juga tercermin dari perilaku mereka di dunia maya.

 

Bagaimana cara memberikan komentar? Apakah seseorang boleh menyebarkan video temannya tanpa izin? Apa yang dilakukan ketika menerima informasi yang belum jelas kebenarannya? Bagaimana sikap ketika menemukan pendapat yang berbeda di media sosial?

 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bagian dari pendidikan akhlak di era digital.

 

Karena itu, literasi digital dan pendidikan akhlak sebenarnya dapat berjalan beriringan. Siswa diajarkan bukan hanya untuk menjadi pengguna teknologi yang cerdas, tetapi juga pengguna teknologi yang memiliki etika.

 

Guru Perlu Masuk ke Dunia Digital Siswa


Tantangan berikutnya adalah peran guru. Generasi yang tumbuh bersama internet memiliki cara memperoleh informasi yang berbeda dengan generasi sebelumnya.

 

Guru tidak harus menjadi kreator konten atau ahli semua platform media sosial. Namun, guru perlu memahami bagaimana peserta didiknya memperoleh informasi dan apa yang mereka konsumsi di ruang digital.

 

Guru dapat memanfaatkan fenomena tersebut sebagai bagian dari pembelajaran.

 

Misalnya, dalam pembelajaran Akidah Akhlak, guru dapat mengajak siswa menganalisis sebuah konten media sosial. Siswa diminta mengidentifikasi pesan yang disampaikan, sumber informasi, bahasa yang digunakan, serta nilai positif atau negatif yang terkandung di dalamnya.

 

Dengan demikian, media sosial tidak hanya menjadi objek larangan, tetapi dapat dijadikan bahan pembelajaran.

 

Dari Konsumen Menjadi Penilai Informasi


Salah satu tujuan penting pendidikan di era digital adalah membentuk siswa yang tidak mudah percaya begitu saja terhadap informasi.

 

Ketika melihat sebuah video yang viral, siswa seharusnya terbiasa bertanya: Siapa yang membuatnya? Dari mana sumber informasinya? Apakah ada sumber lain yang mendukung? Apakah informasi tersebut masih relevan? Apakah ada kemungkinan informasi tersebut dipotong atau keluar dari konteks?

 

Kebiasaan bertanya seperti itu merupakan bagian dari berpikir kritis.

 

Madrasah memiliki posisi strategis untuk menanamkan kebiasaan tersebut karena literasi digital dapat diintegrasikan ke berbagai mata pelajaran, mulai dari Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan, Pendidikan Agama Islam, hingga Akidah Akhlak.

 

Madrasah Harus Beradaptasi


Perubahan teknologi tidak akan berhenti pada TikTok atau platform yang populer hari ini. Besok mungkin akan muncul platform baru dengan karakter yang berbeda. Karena itu, pendidikan tidak mungkin hanya mengejar satu demi satu perkembangan aplikasi.

 

Yang lebih penting adalah membangun kemampuan dasar peserta didik untuk menghadapi perubahan tersebut.

 

Siswa perlu memiliki kemampuan membaca secara mendalam, berpikir kritis, memeriksa informasi, berkomunikasi dengan baik, menjaga etika, serta bertanggung jawab terhadap apa yang mereka konsumsi dan bagikan di ruang digital.

 

Madrasah tidak harus menjadi tempat yang anti-teknologi. Sebaliknya, madrasah dapat menjadi ruang untuk mengajarkan bagaimana teknologi digunakan secara bijak.

 

Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah siswa boleh menonton TikTok atau menggunakan media sosial. Persoalan yang lebih penting adalah apakah mereka mampu membedakan mana informasi yang layak dipercaya dan mana yang harus dipertanyakan.

 

Buku tetap penting. Teknologi juga penting. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan siswa untuk menggunakan keduanya secara cerdas.

 

Sebab, di tengah derasnya arus informasi, generasi masa depan bukan hanya membutuhkan kemampuan untuk mencari jawaban, tetapi juga kemampuan untuk bertanya apakah jawaban itu benar. (*)

Komentar0

Type above and press Enter to search.