Oleh : Dian Nur Hidayah, M.Pd
(Kepala MI PP El Bayan Padangsari, Alumnus Pasca Sarjana MPAI UNISSULA Semarang)
Perkembangan teknologi digital telah mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Kehadiran Artificial Intelligence (AI) semakin memperluas peluang bagi guru dan peserta didik untuk menciptakan proses pembelajaran yang lebih interaktif, fleksibel, dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Namun, di tengah pesatnya perkembangan teknologi,
ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: pendidikan bukan sekadar persoalan
pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan akhlak. Karena itu,
pemanfaatan AI dalam pendidikan perlu diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan
kemampuan akademik, tetapi juga untuk mendukung pembelajaran Akhlak.
Ketika AI Masuk ke Ruang Pembelajaran
AI dapat dimanfaatkan sebagai salah satu teknologi
pendukung pembelajaran. Peserta didik dapat menggunakan AI untuk mencari
penjelasan tambahan, membuat latihan soal, memahami konsep yang sulit, atau
melakukan diskusi interaktif.
Dalam pembelajaran Akhlak, teknologi tersebut dapat
dikembangkan melalui media online yang menyediakan berbagai materi dan
aktivitas pembelajaran. Peserta didik tidak hanya membaca materi tentang
kejujuran, tanggung jawab, menghormati orang tua, menghargai guru, dan menjaga
hubungan dengan sesama, tetapi juga dapat diajak memahami penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari.
Misalnya, peserta didik diberikan sebuah kasus
sederhana: bagaimana sikap yang seharusnya dilakukan ketika menemukan barang
milik orang lain? Atau bagaimana seharusnya bersikap ketika mendapatkan
komentar negatif di media sosial?
Melalui media pembelajaran berbasis AI, peserta
didik dapat diajak berdiskusi mengenai berbagai kemungkinan jawaban. AI dapat
memberikan penjelasan atau pertanyaan lanjutan yang mendorong peserta didik
untuk berpikir lebih mendalam.
Di sinilah teknologi dapat menjadi jembatan antara
materi Akhlak di dalam kelas dengan persoalan kehidupan nyata.
Media Online yang Tidak Sekadar Menyampaikan Materi
Pengembangan media online berbasis AI untuk
pembelajaran Akhlak sebaiknya tidak berhenti pada penyediaan materi dalam
bentuk digital. Media tersebut perlu dirancang agar peserta didik aktif dalam
proses pembelajaran.
Sebuah platform pembelajaran dapat dilengkapi
dengan materi teks, gambar, video, kuis, studi kasus, ruang diskusi, hingga
fitur AI sebagai asisten belajar.
Fitur AI dapat digunakan untuk membantu menjawab
pertanyaan peserta didik berkaitan dengan materi yang sedang dipelajari.
Peserta didik juga dapat meminta contoh penerapan suatu nilai Akhlak dalam
kehidupan sehari-hari.
Sebagai contoh, ketika mempelajari tentang
kejujuran, peserta didik dapat diberikan beberapa situasi yang dekat dengan
kehidupan mereka. Bagaimana sikap ketika terlambat masuk sekolah? Bagaimana
sikap ketika mendapatkan nilai ujian yang tidak sesuai harapan? Bagaimana pula
sikap ketika menggunakan informasi dari internet?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi sarana
untuk menghubungkan teori Akhlak dengan kehidupan nyata.
AI Bukan Pengganti Guru
Pemanfaatan AI dalam pembelajaran Akhlak tidak
berarti menggantikan peran guru. Justru, kehadiran teknologi membutuhkan guru
yang mampu memberikan arahan dan pendampingan.
AI dapat membantu menyediakan informasi dan
merespons pertanyaan, tetapi pembentukan akhlak membutuhkan proses yang lebih
luas. Peserta didik membutuhkan keteladanan, pembiasaan, interaksi sosial,
nasihat, dan bimbingan yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi.
Guru tetap menjadi sosok penting dalam memastikan
bahwa informasi yang diperoleh peserta didik melalui AI sesuai dengan materi
pembelajaran dan nilai-nilai yang ingin ditanamkan.
Karena itu, posisi AI sebaiknya dipahami sebagai
alat bantu pembelajaran, bukan sebagai pengganti pendidik.
Tantangan Etika di Era AI
Penggunaan AI dalam pendidikan juga menghadirkan
tantangan baru. Salah satunya adalah kemungkinan peserta didik menjadi terlalu
bergantung pada teknologi.
Jika setiap tugas langsung diserahkan kepada AI,
peserta didik dapat kehilangan kesempatan untuk berpikir, menganalisis, dan
menyusun jawaban secara mandiri. Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut
justru bertentangan dengan tujuan pendidikan yang ingin membentuk manusia yang
bertanggung jawab dan mandiri.
Karena itu, pendidikan Akhlak dapat menjadi ruang penting
untuk mengajarkan etika penggunaan AI.
Peserta didik perlu memahami bahwa teknologi harus
digunakan secara jujur dan bertanggung jawab. AI tidak seharusnya digunakan
untuk mencontek, melakukan plagiarisme, menyebarkan informasi yang belum
diverifikasi, atau merugikan orang lain.
Dengan demikian, pembelajaran Akhlak tidak hanya
mengajarkan perilaku baik di dunia nyata, tetapi juga membentuk etika peserta
didik ketika berada di ruang digital.
Membentuk Generasi yang Cakap Teknologi dan Berakhlak
Kemajuan teknologi tidak dapat dihindari. Anak-anak
dan generasi muda akan semakin dekat dengan AI dan berbagai teknologi digital
lainnya. Tantangannya adalah bagaimana memastikan kemajuan tersebut berjalan
seiring dengan penguatan karakter.
Pengembangan media online berbasis AI untuk
pembelajaran Akhlak dapat menjadi salah satu upaya untuk menjawab tantangan
tersebut. Teknologi digunakan untuk membuat pembelajaran lebih menarik,
sementara nilai-nilai Akhlak menjadi dasar dalam penggunaannya.
Peserta didik tidak cukup hanya menjadi pengguna
teknologi yang terampil. Mereka juga perlu menjadi pengguna teknologi yang
memiliki tanggung jawab, kejujuran, kesantunan, kepedulian, dan kemampuan
mempertimbangkan dampak dari setiap tindakan.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan di era AI
bukan hanya diukur dari seberapa mahir seseorang menggunakan teknologi. Yang
tidak kalah penting adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan untuk
kebaikan.
AI dapat membantu manusia memperoleh pengetahuan dengan lebih cepat. Namun, pendidikan tetap memiliki tugas yang lebih besar: membentuk manusia yang mampu menggunakan pengetahuan tersebut dengan bijak.
Karena itu, pengembangan media online berbasis AI untuk pembelajaran Akhlak bukan sekadar inovasi teknologi pendidikan. Ia merupakan bagian dari upaya menghadirkan pendidikan yang mampu menjawab perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan dan moral. (*)


Komentar0