Oleh:
Sholihah, S.Pd.I, M.Pd
( Guru MIS MI Ma'arif 10 Mergawati, Alumnus Pasca Sarjana MPAI UNISSULA Semarang )
Dulu, ketika seorang siswa ingin mengetahui sesuatu,
guru adalah salah satu sumber utama untuk mendapatkan jawaban. Buku dibuka,
guru menjelaskan, siswa mencatat, kemudian pengetahuan itu dipelajari dan
diingat. Kini, situasinya berubah.
Hanya dengan mengetik sebuah pertanyaan di layar,
kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dapat memberikan jawaban
dalam hitungan detik. Bahkan, AI dapat membantu membuat tulisan, merangkum
buku, menerjemahkan bahasa, menyusun ide, menjelaskan konsep yang sulit, hingga
membantu menyelesaikan berbagai persoalan.
Lalu muncul sebuah pertanyaan yang semakin relevan:
ketika AI mampu menjawab begitu banyak pertanyaan, apa yang masih harus
diajarkan guru?
Pertanyaan tersebut bukan untuk mempertentangkan
guru dengan teknologi. Justru sebaliknya, pertanyaan ini mengajak kita untuk
melihat kembali hakikat pendidikan dan peran guru di tengah perubahan zaman.
Guru Bukan Sekadar Penyampai Jawaban
Selama bertahun-tahun, keberhasilan mengajar sering kali dikaitkan dengan kemampuan guru dalam menyampaikan materi.
Guru yang mampu menjelaskan pelajaran dengan baik dianggap berhasil membuat peserta didik memahami pengetahuan. Namun, di era AI, informasi bukan lagi sesuatu yang sulit ditemukan.
Pengetahuan dapat dicari dengan mudah. Jawaban dapat diperoleh dengan cepat. Berbagai materi pembelajaran tersedia dalam jumlah yang sangat besar. Karena itu, peran guru tidak lagi cukup jika hanya sebagai pemberi informasi.
Guru perlu menjadi pendamping yang membantu peserta
didik memahami informasi, memeriksa kebenarannya, menggunakannya secara
bertanggung jawab, dan menghubungkannya dengan kehidupan nyata.
AI dapat memberikan jawaban, tetapi guru membantu
peserta didik memahami mengapa jawaban itu penting, bagaimana menggunakannya,
dan apa dampaknya bagi kehidupan.
AI Bisa Menjawab, tetapi Tidak Menggantikan Keteladanan
Seorang guru tidak hanya mengajarkan matematika,
bahasa, ilmu pengetahuan, atau mata pelajaran lainnya. Di dalam proses
pendidikan, guru juga memberikan contoh tentang bagaimana bersikap.
Peserta didik belajar tentang kejujuran bukan hanya
melalui definisi kejujuran di dalam buku, tetapi juga melalui perilaku guru.
Mereka belajar tentang kedisiplinan dari guru yang
menghargai waktu. Mereka belajar tentang tanggung jawab dari guru yang
melaksanakan tugas dengan sungguh-sungguh. Mereka belajar tentang kesantunan
dari cara guru berbicara kepada peserta didik.
Hal-hal seperti ini tidak dapat digantikan hanya dengan sebuah jawaban yang dihasilkan AI. AI dapat menjelaskan apa arti kejujuran. Tetapi guru menunjukkan seperti apa kejujuran itu dalam kehidupan.
AI dapat menjelaskan tentang empati. Tetapi guru dapat menghadirkan empati melalui sikap nyata ketika menghadapi peserta didik yang sedang mengalami kesulitan. Di sinilah pendidikan memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar transfer pengetahuan.
Guru Madrasah dan Pendidikan Adab
Bagi madrasah, perkembangan AI menjadi momentum
untuk semakin menegaskan pentingnya pendidikan karakter dan adab.
Peserta didik tidak cukup hanya menjadi anak yang
cerdas. Mereka juga perlu menjadi manusia yang memiliki akhlak, tanggung jawab,
kepedulian, dan kesadaran terhadap nilai-nilai kebaikan.
Teknologi dapat membantu manusia menjadi lebih
cepat memperoleh informasi. Namun, teknologi tidak otomatis membuat manusia
menjadi lebih bijaksana dalam menggunakan informasi tersebut.
Seorang peserta didik mungkin dapat menggunakan AI
untuk membuat sebuah tulisan. Namun, guru tetap perlu mengajarkan tentang
kejujuran akademik, tanggung jawab, orisinalitas, dan pentingnya proses
berpikir.
Di sinilah guru madrasah memiliki ruang yang sangat
penting: mengajarkan bukan hanya apa yang boleh diketahui, tetapi juga
bagaimana pengetahuan digunakan dengan benar.
Mengajarkan Cara Berpikir, Bukan Sekadar Jawaban
Salah satu tantangan pendidikan di era AI adalah
munculnya kebiasaan mencari jawaban secara instan.
Ketika mendapatkan tugas, peserta didik bisa saja
langsung bertanya kepada AI. Jawaban diperoleh dalam beberapa detik.
Persoalannya bukan semata-mata apakah peserta didik menggunakan AI atau tidak,
melainkan apakah mereka masih melakukan proses berpikir.
Guru perlu menggeser fokus pembelajaran dari
sekadar “apa jawabannya?” menjadi “bagaimana kamu sampai pada jawaban itu?”
Peserta didik perlu dibiasakan bertanya,
membandingkan informasi, mencari bukti, menemukan kesalahan, menyampaikan
alasan, dan mempertanggungjawabkan pendapat.
Kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting
ketika informasi dapat diperoleh dengan sangat mudah.
Sebab, di tengah banjir informasi, masalah terbesar
bukan lagi kekurangan informasi, melainkan kemampuan membedakan informasi yang
benar, relevan, dan dapat dipercaya.
Guru Mengajarkan Pertanyaan yang Tepat
Menariknya, semakin canggih AI, semakin penting
pula kemampuan manusia dalam mengajukan pertanyaan.
Pertanyaan yang baik menunjukkan adanya rasa ingin tahu dan kemampuan memahami persoalan. Guru dapat mendorong peserta didik untuk tidak cepat puas dengan jawaban pertama.
Biasakan mereka bertanya: mengapa demikian? Apa buktinya? Apakah ada sudut pandang lain? Apa dampaknya? Bagaimana jika kondisi tersebut berbeda? Apa yang seharusnya kita lakukan? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu mendorong peserta didik untuk berpikir lebih dalam.
Dengan demikian, guru tidak perlu bersaing dengan
AI dalam hal kecepatan memberikan jawaban. Guru justru dapat menjadi pihak yang
membantu peserta didik menemukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih bermakna.
AI Sebaiknya Menjadi Alat, Bukan Pengganti Proses Belajar
Kehadiran AI tidak harus dipandang sebagai ancaman.
Teknologi dapat menjadi alat bantu yang bermanfaat dalam pendidikan apabila
digunakan secara bijak.
Guru dapat memanfaatkannya untuk mencari inspirasi pembelajaran, membuat variasi aktivitas, menyusun bahan diskusi, atau membantu menjelaskan konsep tertentu. Peserta didik pun dapat memanfaatkannya sebagai salah satu sumber belajar. Namun, penggunaan AI perlu disertai pendampingan.
Peserta didik harus memahami bahwa jawaban AI tidak
selalu benar. AI dapat menghasilkan informasi yang keliru, tidak lengkap, atau
tidak sesuai konteks. Karena itu, kemampuan memverifikasi informasi tetap
sangat penting.
Yang lebih penting lagi, peserta didik harus
memahami bahwa menggunakan teknologi untuk membantu belajar berbeda dengan
menggunakan teknologi untuk menggantikan proses belajar.
Belajar bukan sekadar mendapatkan jawaban. Belajar
adalah proses bertanya, mencoba, mengalami kesalahan, memperbaiki, memahami,
dan berkembang.
Guru Tetap Mengajarkan Nilai-Nilai Kemanusiaan
Ada banyak hal yang mungkin dapat dilakukan teknologi dengan sangat baik, tetapi pendidikan manusia memiliki dimensi yang lebih luas. Guru mengajarkan kerja sama ketika peserta didik belajar dalam kelompok.
Guru mengajarkan kesabaran ketika peserta didik menghadapi kegagalan. Guru mengajarkan tanggung jawab ketika peserta didik harus menyelesaikan tugas. Guru mengajarkan keberanian ketika peserta didik diminta menyampaikan pendapat.
Guru mengajarkan empati ketika peserta didik belajar memahami perasaan orang lain. Dan guru mengajarkan bahwa keberhasilan tidak selalu diukur dari nilai yang tertulis di atas kertas. Semua itu merupakan bagian dari proses membentuk manusia.
Mungkin Peran Guru Justru Semakin Penting
Kemajuan AI tidak harus membuat guru merasa
kehilangan peran. Justru perkembangan teknologi dapat menjadi kesempatan untuk
memperkuat kembali hakikat profesi guru.
Jika mesin semakin mampu menyampaikan informasi,
maka guru dapat lebih banyak memberikan perhatian pada hal-hal yang bersifat
manusiawi.
Guru dapat lebih fokus pada pendampingan, diskusi,
pembentukan karakter, pengembangan kreativitas, penguatan kemampuan berpikir
kritis, dan pemberian pengalaman belajar yang bermakna.
Dengan demikian, pertanyaan “Apakah AI akan
menggantikan guru?” mungkin bukan pertanyaan yang paling penting.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Guru seperti apa yang dibutuhkan peserta didik di era AI?”
Jawabannya bukan sekadar guru yang mampu menguasai
teknologi. Peserta didik membutuhkan guru yang mau terus belajar, terbuka
terhadap perubahan, mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, dan tetap
memiliki keteguhan nilai.
AI Bisa Memberikan Jawaban, Guru Mengajarkan Makna
Pada akhirnya, AI mungkin akan semakin pintar. Kemampuannya akan terus berkembang. Jawaban akan semakin cepat dan informasi semakin mudah diperoleh. Tetapi pendidikan tidak pernah hanya tentang jawaban.
Pendidikan adalah tentang bagaimana seseorang
menggunakan pengetahuan untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Karena itu, ketika AI mampu menjawab berbagai
pertanyaan, guru tidak perlu sibuk berlomba menjadi mesin pencari yang lebih
cepat.
Guru memiliki tugas yang jauh lebih penting:
mengajarkan peserta didik cara berpikir, cara bersikap, cara memilih, cara
bertanggung jawab, dan cara menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.
AI mungkin mampu menjawab pertanyaan “apa” dan
“bagaimana”.
Namun, guru tetap memiliki peran penting dalam
mengajak peserta didik menemukan jawaban atas pertanyaan yang jauh lebih
mendalam:
“Mengapa kita harus melakukannya?”
“Untuk siapa pengetahuan ini digunakan?”
“Apa yang benar untuk dilakukan?”
Dan pada akhirnya:
“Manusia seperti apa yang ingin kita menjadi?”
Di situlah guru tetap memiliki ruang yang tidak
tergantikan: bukan sekadar mengajarkan pengetahuan, tetapi menanamkan makna. (*)

Komentar0