TpY8Tfd7TUzpTSzpBSz6BUO5Td==

Ketika AI Mampu Menjawab, Apa yang Masih Harus Diajarkan Guru?

 


Oleh: 

Sholihah, S.Pd.I, M.Pd

( Guru MIS MI Ma'arif 10 Mergawati, Alumnus Pasca Sarjana MPAI UNISSULA Semarang )


Dulu, ketika seorang siswa ingin mengetahui sesuatu, guru adalah salah satu sumber utama untuk mendapatkan jawaban. Buku dibuka, guru menjelaskan, siswa mencatat, kemudian pengetahuan itu dipelajari dan diingat. Kini, situasinya berubah.

 

Hanya dengan mengetik sebuah pertanyaan di layar, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dapat memberikan jawaban dalam hitungan detik. Bahkan, AI dapat membantu membuat tulisan, merangkum buku, menerjemahkan bahasa, menyusun ide, menjelaskan konsep yang sulit, hingga membantu menyelesaikan berbagai persoalan.

 

Lalu muncul sebuah pertanyaan yang semakin relevan: ketika AI mampu menjawab begitu banyak pertanyaan, apa yang masih harus diajarkan guru?

 

Pertanyaan tersebut bukan untuk mempertentangkan guru dengan teknologi. Justru sebaliknya, pertanyaan ini mengajak kita untuk melihat kembali hakikat pendidikan dan peran guru di tengah perubahan zaman.

 

Guru Bukan Sekadar Penyampai Jawaban


Selama bertahun-tahun, keberhasilan mengajar sering kali dikaitkan dengan kemampuan guru dalam menyampaikan materi. 


Guru yang mampu menjelaskan pelajaran dengan baik dianggap berhasil membuat peserta didik memahami pengetahuan. Namun, di era AI, informasi bukan lagi sesuatu yang sulit ditemukan.

 

Pengetahuan dapat dicari dengan mudah. Jawaban dapat diperoleh dengan cepat. Berbagai materi pembelajaran tersedia dalam jumlah yang sangat besar. Karena itu, peran guru tidak lagi cukup jika hanya sebagai pemberi informasi.

 

Guru perlu menjadi pendamping yang membantu peserta didik memahami informasi, memeriksa kebenarannya, menggunakannya secara bertanggung jawab, dan menghubungkannya dengan kehidupan nyata.

 

AI dapat memberikan jawaban, tetapi guru membantu peserta didik memahami mengapa jawaban itu penting, bagaimana menggunakannya, dan apa dampaknya bagi kehidupan.

 

AI Bisa Menjawab, tetapi Tidak Menggantikan Keteladanan


Seorang guru tidak hanya mengajarkan matematika, bahasa, ilmu pengetahuan, atau mata pelajaran lainnya. Di dalam proses pendidikan, guru juga memberikan contoh tentang bagaimana bersikap.

 

Peserta didik belajar tentang kejujuran bukan hanya melalui definisi kejujuran di dalam buku, tetapi juga melalui perilaku guru.

 

Mereka belajar tentang kedisiplinan dari guru yang menghargai waktu. Mereka belajar tentang tanggung jawab dari guru yang melaksanakan tugas dengan sungguh-sungguh. Mereka belajar tentang kesantunan dari cara guru berbicara kepada peserta didik.

 

Hal-hal seperti ini tidak dapat digantikan hanya dengan sebuah jawaban yang dihasilkan AI. AI dapat menjelaskan apa arti kejujuran. Tetapi guru menunjukkan seperti apa kejujuran itu dalam kehidupan.

 

AI dapat menjelaskan tentang empati. Tetapi guru dapat menghadirkan empati melalui sikap nyata ketika menghadapi peserta didik yang sedang mengalami kesulitan. Di sinilah pendidikan memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar transfer pengetahuan.

 

Guru Madrasah dan Pendidikan Adab


Bagi madrasah, perkembangan AI menjadi momentum untuk semakin menegaskan pentingnya pendidikan karakter dan adab.

 

Peserta didik tidak cukup hanya menjadi anak yang cerdas. Mereka juga perlu menjadi manusia yang memiliki akhlak, tanggung jawab, kepedulian, dan kesadaran terhadap nilai-nilai kebaikan.

 

Teknologi dapat membantu manusia menjadi lebih cepat memperoleh informasi. Namun, teknologi tidak otomatis membuat manusia menjadi lebih bijaksana dalam menggunakan informasi tersebut.

 

Seorang peserta didik mungkin dapat menggunakan AI untuk membuat sebuah tulisan. Namun, guru tetap perlu mengajarkan tentang kejujuran akademik, tanggung jawab, orisinalitas, dan pentingnya proses berpikir.

 

Di sinilah guru madrasah memiliki ruang yang sangat penting: mengajarkan bukan hanya apa yang boleh diketahui, tetapi juga bagaimana pengetahuan digunakan dengan benar.

 

Mengajarkan Cara Berpikir, Bukan Sekadar Jawaban


Salah satu tantangan pendidikan di era AI adalah munculnya kebiasaan mencari jawaban secara instan.

 

Ketika mendapatkan tugas, peserta didik bisa saja langsung bertanya kepada AI. Jawaban diperoleh dalam beberapa detik. Persoalannya bukan semata-mata apakah peserta didik menggunakan AI atau tidak, melainkan apakah mereka masih melakukan proses berpikir.

 

Guru perlu menggeser fokus pembelajaran dari sekadar “apa jawabannya?” menjadi “bagaimana kamu sampai pada jawaban itu?”

 

Peserta didik perlu dibiasakan bertanya, membandingkan informasi, mencari bukti, menemukan kesalahan, menyampaikan alasan, dan mempertanggungjawabkan pendapat.

 

Kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting ketika informasi dapat diperoleh dengan sangat mudah.

 

Sebab, di tengah banjir informasi, masalah terbesar bukan lagi kekurangan informasi, melainkan kemampuan membedakan informasi yang benar, relevan, dan dapat dipercaya.

 

Guru Mengajarkan Pertanyaan yang Tepat


Menariknya, semakin canggih AI, semakin penting pula kemampuan manusia dalam mengajukan pertanyaan.

 

Pertanyaan yang baik menunjukkan adanya rasa ingin tahu dan kemampuan memahami persoalan. Guru dapat mendorong peserta didik untuk tidak cepat puas dengan jawaban pertama. 


Biasakan mereka bertanya: mengapa demikian? Apa buktinya? Apakah ada sudut pandang lain? Apa dampaknya? Bagaimana jika kondisi tersebut berbeda? Apa yang seharusnya kita lakukan? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu mendorong peserta didik untuk berpikir lebih dalam.

 

Dengan demikian, guru tidak perlu bersaing dengan AI dalam hal kecepatan memberikan jawaban. Guru justru dapat menjadi pihak yang membantu peserta didik menemukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih bermakna.

 

AI Sebaiknya Menjadi Alat, Bukan Pengganti Proses Belajar


Kehadiran AI tidak harus dipandang sebagai ancaman. Teknologi dapat menjadi alat bantu yang bermanfaat dalam pendidikan apabila digunakan secara bijak.

 

Guru dapat memanfaatkannya untuk mencari inspirasi pembelajaran, membuat variasi aktivitas, menyusun bahan diskusi, atau membantu menjelaskan konsep tertentu. Peserta didik pun dapat memanfaatkannya sebagai salah satu sumber belajar. Namun, penggunaan AI perlu disertai pendampingan.

 

Peserta didik harus memahami bahwa jawaban AI tidak selalu benar. AI dapat menghasilkan informasi yang keliru, tidak lengkap, atau tidak sesuai konteks. Karena itu, kemampuan memverifikasi informasi tetap sangat penting.

 

Yang lebih penting lagi, peserta didik harus memahami bahwa menggunakan teknologi untuk membantu belajar berbeda dengan menggunakan teknologi untuk menggantikan proses belajar.

 

Belajar bukan sekadar mendapatkan jawaban. Belajar adalah proses bertanya, mencoba, mengalami kesalahan, memperbaiki, memahami, dan berkembang.

 

Guru Tetap Mengajarkan Nilai-Nilai Kemanusiaan


Ada banyak hal yang mungkin dapat dilakukan teknologi dengan sangat baik, tetapi pendidikan manusia memiliki dimensi yang lebih luas. Guru mengajarkan kerja sama ketika peserta didik belajar dalam kelompok. 


Guru mengajarkan kesabaran ketika peserta didik menghadapi kegagalan. Guru mengajarkan tanggung jawab ketika peserta didik harus menyelesaikan tugas. Guru mengajarkan keberanian ketika peserta didik diminta menyampaikan pendapat. 


Guru mengajarkan empati ketika peserta didik belajar memahami perasaan orang lain. Dan guru mengajarkan bahwa keberhasilan tidak selalu diukur dari nilai yang tertulis di atas kertas. Semua itu merupakan bagian dari proses membentuk manusia.

 

Mungkin Peran Guru Justru Semakin Penting


Kemajuan AI tidak harus membuat guru merasa kehilangan peran. Justru perkembangan teknologi dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat kembali hakikat profesi guru.

 

Jika mesin semakin mampu menyampaikan informasi, maka guru dapat lebih banyak memberikan perhatian pada hal-hal yang bersifat manusiawi.

 

Guru dapat lebih fokus pada pendampingan, diskusi, pembentukan karakter, pengembangan kreativitas, penguatan kemampuan berpikir kritis, dan pemberian pengalaman belajar yang bermakna.

 

Dengan demikian, pertanyaan “Apakah AI akan menggantikan guru?” mungkin bukan pertanyaan yang paling penting.

 

Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Guru seperti apa yang dibutuhkan peserta didik di era AI?”

 

Jawabannya bukan sekadar guru yang mampu menguasai teknologi. Peserta didik membutuhkan guru yang mau terus belajar, terbuka terhadap perubahan, mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, dan tetap memiliki keteguhan nilai.

 

AI Bisa Memberikan Jawaban, Guru Mengajarkan Makna


Pada akhirnya, AI mungkin akan semakin pintar. Kemampuannya akan terus berkembang. Jawaban akan semakin cepat dan informasi semakin mudah diperoleh. Tetapi pendidikan tidak pernah hanya tentang jawaban.

 

Pendidikan adalah tentang bagaimana seseorang menggunakan pengetahuan untuk menjadi manusia yang lebih baik.

 

Karena itu, ketika AI mampu menjawab berbagai pertanyaan, guru tidak perlu sibuk berlomba menjadi mesin pencari yang lebih cepat.

 

Guru memiliki tugas yang jauh lebih penting: mengajarkan peserta didik cara berpikir, cara bersikap, cara memilih, cara bertanggung jawab, dan cara menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.

 

AI mungkin mampu menjawab pertanyaan “apa” dan “bagaimana”.

 

Namun, guru tetap memiliki peran penting dalam mengajak peserta didik menemukan jawaban atas pertanyaan yang jauh lebih mendalam:

 

“Mengapa kita harus melakukannya?”

 

“Untuk siapa pengetahuan ini digunakan?”

 

“Apa yang benar untuk dilakukan?”

 

Dan pada akhirnya:

 

“Manusia seperti apa yang ingin kita menjadi?”

 

Di situlah guru tetap memiliki ruang yang tidak tergantikan: bukan sekadar mengajarkan pengetahuan, tetapi menanamkan makna. (*)

Komentar0

Type above and press Enter to search.