![]() |
| Orang sedang mengucapkan sumpah (Ilustrasi by AI) |
Dalam kehidupan sehari-hari, sebagian orang terbiasa mengucapkan
sumpah untuk meyakinkan orang lain.
Kalimat seperti “Demi Allah” terkadang keluar begitu saja, bahkan
untuk perkara yang sebenarnya tidak perlu diperkuat dengan sumpah.
Dalam ajaran Islam, sumpah bukanlah ucapan yang seharusnya
digunakan secara sembarangan.
Ketika seseorang bersumpah dengan menyebut nama Allah, ada tanggung
jawab yang melekat pada ucapan tersebut.
Lantas, apa bahaya terlalu sering mengucapkan sumpah menurut Islam?
Islam Melarang Sumpah Dijadikan Kebiasaan
Allah SWT mengingatkan agar manusia tidak menjadikan sumpah sebagai sesuatu yang dilakukan secara berlebihan. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa dan mengadakan ishlah di antara manusia.” (QS. Al-Baqarah: 224)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa nama Allah harus dihormati. Sumpah tidak semestinya digunakan untuk memperkuat setiap perkataan atau dijadikan kebiasaan dalam percakapan sehari-hari.
Seseorang yang terlalu mudah mengucapkan sumpah juga dapat kehilangan kehati-hatian dalam berbicara. Padahal, setiap ucapan seorang Muslim seharusnya dipertimbangkan dengan baik.
Sumpah Bukan Sekadar Ucapan Biasa
Dalam Islam, sumpah memiliki kedudukan yang serius, terutama ketika seseorang bersumpah dengan menyebut nama Allah atau sifat-Nya. Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa bersumpah, maka hendaklah dia bersumpah dengan nama Allah atau diam.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut menjadi pengingat agar seorang Muslim tidak mudah menggunakan sumpah. Jika memang tidak diperlukan, diam atau menyampaikan perkataan dengan jujur tanpa sumpah merupakan sikap yang lebih hati-hati.
Bahaya Sering Bersumpah
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika seseorang terlalu sering mengucapkan sumpah.
1. Meremehkan Nama Allah
Mengucapkan “Demi Allah” secara berulang-ulang tanpa kebutuhan dapat membuat seseorang kurang menghargai kesakralan nama Allah.
Nama Allah bukanlah kata penguat yang boleh digunakan sembarangan hanya agar perkataan terdengar lebih meyakinkan.
2. Berisiko Terjerumus pada Dusta
Salah satu bahaya yang lebih serius terjadi ketika seseorang menggunakan sumpah untuk meyakinkan orang lain, padahal apa yang dikatakannya tidak benar.
Sumpah yang disertai kebohongan bukan perkara ringan. Karena itu, seorang Muslim hendaknya berhati-hati sebelum mengucapkan sumpah, terutama ketika berkaitan dengan sesuatu yang tidak benar.
3. Sumpah Bisa Menjadi Beban bagi Diri Sendiri
Ketika seseorang bersumpah untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu, sumpah tersebut dapat menimbulkan konsekuensi hukum tertentu dalam fikih.
Al-Qur'an menjelaskan tentang kaffarat sumpah dalam QS. Al-Ma'idah ayat 89. Kaffarat tersebut berkaitan dengan sumpah yang disengaja dan kemudian dilanggar, dengan ketentuan yang telah dijelaskan dalam ayat tersebut.
Karena itu, jangan mudah membuat janji atau sumpah hanya karena dorongan emosi sesaat.
4. Menjadikan Sumpah Sebagai Kebiasaan dalam Percakapan
Ada orang yang hampir selalu mengucapkan “Demi Allah” ketika bercerita, menjelaskan sesuatu, atau berusaha meyakinkan orang lain.
Jika menjadi kebiasaan, seseorang bisa kehilangan kehati-hatian dalam menjaga lisannya. Padahal, seorang Muslim dianjurkan untuk berkata baik atau diam. Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memberikan prinsip penting dalam menjaga ucapan: tidak semua hal harus diperkuat dengan sumpah.
Bagaimana Jika Sumpah Terlanjur Diucapkan?
Tidak semua sumpah memiliki hukum yang sama. Al-Qur'an menjelaskan bahwa Allah tidak menghukum manusia karena sumpah yang tidak disengaja, tetapi memperhitungkan sumpah yang dilakukan dengan sengaja.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ma'idah ayat 89 tentang sumpah yang disengaja dan kaffarat ketika sumpah tersebut dilanggar.
Kaffarat sumpah dalam ayat tersebut antara lain memberi makan sepuluh orang miskin dari makanan yang biasa diberikan kepada keluarga, memberi pakaian kepada mereka, atau memerdekakan seorang hamba sahaya. Jika tidak mampu melakukan salah satu dari pilihan tersebut, maka berpuasa selama tiga hari.
Dalam praktiknya, persoalan sumpah dapat memiliki rincian fikih yang berbeda tergantung pada lafaz, niat, keadaan, dan jenis sumpah.
Karena itu, jika seseorang memiliki kasus tertentu terkait sumpah yang dilanggar, sebaiknya bertanya kepada ustaz atau ahli fikih yang terpercaya.
Jangan Bersumpah Hanya untuk Meyakinkan Orang Lain
Kejujuran seharusnya menjadi dasar dalam komunikasi seorang Muslim. Seseorang tidak perlu terus-menerus mengucapkan sumpah hanya agar perkataannya dipercaya.
Justru, kebiasaan bersumpah dapat membuat orang lain mempertanyakan mengapa seseorang harus terus menggunakan nama Allah untuk meyakinkan mereka.
Menyampaikan sesuatu dengan jujur, jelas, dan apa adanya merupakan sikap yang lebih baik daripada menjadikan sumpah sebagai kebiasaan.
Kesimpulan
Mengucapkan sumpah dalam Islam bukan perkara yang sebaiknya dilakukan secara sembarangan. Seorang Muslim dianjurkan menjaga lisannya dan tidak menjadikan nama Allah sebagai penguat setiap perkataan.
Terlalu sering bersumpah dapat membawa seseorang pada berbagai persoalan, terutama jika sumpah tersebut diucapkan tanpa kehati-hatian, digunakan untuk kebohongan, atau dilanggar setelah dibuat dengan sengaja.
Karena itu, jangan mudah mengucapkan “Demi Allah” jika memang tidak diperlukan. Jagalah ucapan, biasakan berkata jujur, dan pahami konsekuensi syariat sebelum mengucapkan sumpah.
Dengan menjaga lisan, seorang Muslim bukan hanya menghindari
kesalahan dalam berbicara, tetapi juga belajar untuk lebih menghormati nama
Allah SWT. (*)

Komentar0