![]() |
| Umar bin Khattab (Ilustrasi: Created by AI) |
Bulan Rabiul Akhir mengingatkan kita pada perjalanan penting kepemimpinan Umar bin Khattab RA, yang melanjutkan kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq RA sebagai khalifah kaum Muslimin.
Umar dikenal sebagai sosok yang tegas dalam menegakkan kebenaran, tetapi di balik ketegasannya terdapat hati yang lembut, rasa takut kepada Allah, kesederhanaan, dan tanggung jawab yang besar terhadap umat.
Kisah Umar bin Khattab bukan sekadar cerita sejarah yang kita kenang, tetapi mengandung pelajaran yang sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari.
Kita
mungkin bukan seorang khalifah atau pemimpin negara, tetapi setiap kita
memiliki amanah: orang tua bertanggung jawab terhadap keluarga, pemimpin
terhadap orang yang dipimpinnya, guru terhadap muridnya, dan setiap manusia
bertanggung jawab atas harta, waktu, perkataan, serta perbuatannya.
Karena
itu, melalui khutbah Jumat Rabiul Akhir kali ini, marilah kita mengambil hikmah
dari keteladanan Umar bin Khattab RA.
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ
أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ، وَجَعَلَ الْإِسْلَامَ نُوْرًا
لِقُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَهُدًى لِلنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ.
أَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ
سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ اللّٰهُ رَحْمَةً
لِلْعَالَمِيْنَ وَهَادِيًا إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ
وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِيْنَ
وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ .أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ
اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللّٰهِ
خَيْرُ زَادٍ لِمَنْ أَرَادَ الْفَلَاحَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ. قَالَ
اللّٰهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ : يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ
وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ .صَدَقَ اللّٰهُ الْعَظِيْمُ.
Jamaah
yang dimuliakan Allah,
Pada
kesempatan ini, marilah kita mengenang salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang namanya begitu harum
dalam sejarah Islam: Umar bin Khattab RA.
Umar
bukan hanya dikenal sebagai seorang pemimpin yang kuat. Beliau dikenal karena
keberanian, keadilan, amanah, kesederhanaan, dan rasa takutnya kepada Allah SWT.
Ketika
Abu Bakar Ash-Shiddiq RA wafat, Umar menerima amanah
kepemimpinan umat Islam. Beberapa sumber sejarah menyebutkan Umar bin Khattab
dibaiat sebagai khalifah pada bulan Rabiul Akhir.
Oleh karena itu, Rabiul Akhir dapat kita jadikan momentum untuk membaca kembali
keteladanan beliau dan mengambil pelajaran bagi kehidupan kita.
Jamaah
Jumat rahimakumullah,
Pertanyaannya
adalah: Apa yang membuat Umar begitu besar dalam sejarah Islam? Bukan
semata-mata karena luasnya wilayah kekuasaan. Bukan hanya karena banyaknya
urusan negara yang berhasil ditata. Tetapi karena di balik kekuasaan itu ada
hati yang takut kepada Allah.
Umar
memiliki kekuasaan, tetapi tidak mabuk kekuasaan. Umar memiliki kedudukan,
tetapi tidak menjadikan kedudukan sebagai alasan untuk sombong. Umar memiliki
harta negara di hadapannya, tetapi ia memahami bahwa semua itu adalah amanah. Dan
yang paling penting, Umar memiliki rasa takut kepada Allah yang begitu dalam.
Jamaah
yang dirahmati Allah,
Ada
sebuah atsar yang diriwayatkan dari Hasan Al-Bashri rahimahullah. Beliau
menceritakan bahwa ketika Umar membaca ayat Al-Qur'an dalam bacaan hariannya,
terkadang beliau begitu tersentuh hingga menangis dan jatuh.
Bahkan
beliau tinggal di rumah beberapa waktu sehingga orang-orang menyangka beliau
sedang sakit. Riwayat tentang hal ini disebutkan dalam Musannaf Ibn Abi
Syaibah, Az-Zuhd karya Imam Ahmad, dan Hilyatul Auliya.
Disebutkan
pula dalam sejumlah kitab atsar bahwa pada wajah Umar terdapat dua garis bekas
air mata karena sering menangis. Riwayat ini bukan hadis marfu' dari Rasulullah
SAW, tetapi merupakan keterangan
dari generasi setelahnya tentang keadaan Umar.
Jamaah
Jumat yang dimuliakan Allah,
Bayangkan!
Seorang manusia yang telah mendapatkan banyak keutamaan. Seorang sahabat
Rasulullah SAW. Seorang pemimpin besar.
Tetapi ketika berhadapan dengan ayat-ayat Allah, hatinya bergetar.
Mengapa?
Karena Umar tidak membaca Al-Qur'an hanya dengan lisannya. Ia membacanya dengan
hatinya. Ketika Al-Qur'an berbicara tentang surga, ia berharap. Ketika
Al-Qur'an berbicara tentang neraka, ia takut. Ketika Al-Qur'an berbicara
tentang amanah, ia merasa dirinya sedang dipanggil.
Ketika
Al-Qur'an berbicara tentang pertanggungjawaban, ia merasa dirinya akan segera
berdiri di hadapan Allah.
Lalu
bagaimana dengan kita? Berapa banyak ayat Al-Qur'an yang kita baca setiap hari?
Berapa banyak ayat tentang kematian yang kita dengarkan? Berapa banyak ayat
tentang hari kiamat yang kita baca? Tetapi mengapa terkadang hati kita tetap
keras? Inilah yang perlu kita renungkan.
Jamaah
rahimakumullah,
Takut
kepada Allah bukan berarti hidup dalam keputusasaan. Takut kepada Allah berarti
menjaga diri agar tidak berani melakukan dosa ketika kita sadar bahwa Allah
selalu melihat kita.
Allah
SWT berfirman:
إِنَّمَا
يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya
yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah orang-orang
yang berilmu.”(QS. Fatir: 28)
Maka,
salah satu pelajaran dari Umar adalah: semakin tinggi ilmu dan kedudukan
seseorang, seharusnya semakin besar pula rasa takutnya kepada Allah.
Bukan
semakin sombong. Bukan semakin meremehkan orang lain. Bukan semakin merasa
dirinya paling benar. Tetapi semakin rendah hati di hadapan Allah.
Jamaah
Jumat rahimakumullah,
Keteladanan
Umar yang kedua adalah amanah dan kepedulian kepada rakyat. Rasulullah SAW bersabda:
كُلُّكُمْ
رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap
kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas
yang dipimpinnya.”
Hadis
ini diriwayatkan dalam berbagai kitab hadis, antara lain Jami' At-Tirmidzi. Perhatikan
baik-baik, Rasulullah SAW tidak mengatakan hanya seorang
khalifah yang akan dimintai pertanggungjawaban. كُلُّكُمْ رَاع
“setiap kalian adalah
pemimpin.”
Seorang ayah adalah pemimpin bagi keluarganya. Seorang ibu memiliki amanah terhadap anak-anaknya. Seorang guru memiliki amanah terhadap muridnya. Seorang atasan memiliki amanah terhadap bawahannya. Seorang pedagang memiliki amanah terhadap pembelinya.
Dan
setiap diri kita memiliki amanah terhadap tubuh, waktu, harta, ilmu, serta
kesempatan hidup yang Allah berikan.
Jamaah
yang dimuliakan Allah,
Ada
sebuah kisah yang sangat menyentuh tentang kepedulian Umar kepada rakyatnya.
Kisah ini diriwayatkan dari Aslam, seorang yang dekat dengan Umar.
Pada suatu malam, Umar melihat sebuah keluarga yang sedang berada dalam kesulitan. Seorang ibu sedang bersama anak-anaknya yang menangis karena lapar. Umar bertanya apa yang terjadi.
Perempuan itu menjelaskan bahwa anak-anaknya kelaparan. Ia kemudian menyalakan api dan meletakkan sebuah periuk berisi air. Bukan karena di dalamnya ada makanan, tetapi agar anak-anaknya mengira bahwa makanan sedang dimasak. Dengan harapan, mereka akan tertidur karena menunggu makanan.
Jamaah
yang dirahmati Allah,
Betapa berat keadaan seorang ibu ketika harus menenangkan anak-anaknya dengan sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Dan ketika Umar mendengar bahwa perempuan itu berkata bahwa Allah akan mengadili antara dirinya dengan Umar, Umar menangis.
Kemudian
Umar kembali mengambil tepung dan lemak. Ia memanggul sendiri bahan makanan
tersebut dan menolak ketika hendak dibantu. Setelah sampai, Umar memasak
makanan itu sendiri untuk keluarga tersebut.
Dalam
riwayat tersebut, Umar terus memastikan anak-anak itu makan sampai mereka
kenyang dan tenang. Kisah ini dinukil dalam sumber-sumber biografi dan sejarah
tentang Umar dari riwayat Aslam.
Jamaah
Jumat rahimakumullah,
Kisah
ini mengajarkan kepada kita bahwa kepedulian bukan sekadar perkataan. Umar
tidak hanya berkata, “Saya prihatin.” Umar tidak hanya berkata, “Semoga Allah
memberikan pertolongan.” Tetapi Umar turun tangan.
Ia
melihat. Ia mendengar. Ia menangis. Dan kemudian ia bertindak. Inilah akhlak
yang perlu kita hidupkan kembali. Ketika tetangga kita kesusahan, jangan hanya
membicarakannya.
Ketika
ada saudara kita sakit, jangan hanya mengucapkan kasihan. Ketika ada orang tua
yang membutuhkan bantuan, jangan hanya mengatakan bahwa kita peduli. Kalau kita
mampu membantu, bantulah.
Sebab
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa seorang
Muslim hendaknya menjadi orang yang memberikan manfaat dan kebaikan bagi
saudaranya.
Jamaah
rahimakumullah,
Pelajaran
ketiga dari Umar adalah keadilan. Allah SWT berfirman:
إِنَّ
اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
“Sesungguhnya
Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An-Nahl: 90)
Keadilan
Umar bukan hanya kepada orang yang ia sukai. Dalam Al-Muwatta' Imam Malik
terdapat riwayat bahwa Umar pernah menangani perselisihan antara seorang Muslim
dan seorang Yahudi.
Umar
melihat bahwa hak berada pada pihak Yahudi tersebut, lalu beliau memutuskan
perkara sesuai dengan haknya. Riwayat ini menjadi salah satu gambaran tentang
komitmen Umar terhadap keadilan.
Jamaah
yang dimuliakan Allah,
Inilah
keadilan yang sering kali sulit kita praktikkan. Adil ketika menghadapi orang
yang kita cintai, itu mudah. Adil kepada teman, itu mudah. Tetapi adil kepada
orang yang tidak kita sukai, itulah ujian.
Allah
berfirman:
وَلَا
يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ
أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
“Janganlah
kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.
Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma'idah: 8)
Maka
marilah kita belajar dari Umar. Jika anak kita salah, jangan membenarkannya
hanya karena dia anak kita. Jika teman kita salah, jangan membelanya hanya
karena dia teman kita.
Jika
kita salah, beranilah mengakuinya. Karena kebenaran tidak menjadi salah hanya
karena datang dari orang yang tidak kita sukai.
Jamaah
Jumat rahimakumullah,
Inilah
tiga pelajaran besar dari Umar bin Khattab yang dapat kita bawa pulang hari
ini: pertama, takutlah kepada Allah. Kedua, tunaikan amanah dan pedulilah
kepada sesama. Ketiga, tegakkan keadilan meskipun berat bagi diri sendiri.
Umar
mengajarkan kepada kita bahwa menjadi manusia besar bukan karena banyak orang
takut kepada kita. Tetapi karena kita sendiri takut kepada Allah. Menjadi
pemimpin bukan berarti harus selalu dilayani. Tetapi harus siap melayani.
Menjadi
orang kaya bukan berarti boleh merendahkan yang miskin. Tetapi semakin banyak
harta, semakin besar kesempatan untuk berbagi. Dan memiliki kedudukan bukan
berarti semakin tinggi di hadapan manusia. Tetapi seharusnya semakin rendah
hati di hadapan Allah.
Semoga
Allah menjadikan kita hamba-hamba yang amanah, adil, rendah hati, peduli kepada
sesama, dan memiliki hati yang lembut ketika mendengar ayat-ayat Allah.
Semoga
Allah memperbaiki keluarga kita, pekerjaan kita, masyarakat kita, dan kehidupan
kita.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ
عِبَادِكَ الْمُتَّقِينَ، وَمِنْ عِبَادِكَ الْأُمَنَاءِ، وَمِنْ عِبَادِكَ
الْعَادِلِينَ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ الدُّنْيَا دَارُ عَمَلٍ وَالْآخِرَةَ دَارُ جَزَاءٍ. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ، إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ الدُّرُوسِ الَّتِي نَتَعَلَّمُهَا مِنْ سِيْرَةِ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِينَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: خَشْيَةُ اللَّهِ، وَأَدَاءُ الْأَمَانَةِ، وَالْعَدْلُ، وَالتَّوَاضُعُ، وَالرَّحْمَةُ بِعِبَادِ اللَّهِ.
كَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَوِيًّا فِي الْحَقِّ، شَدِيدًا عَلَى نَفْسِهِ، رَحِيمًا بِالضُّعَفَاءِ، وَكَانَ يَخَافُ أَنْ يُسْأَلَ عَنْ أَمَانَةِ الْأُمَّةِ يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ. وَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا.
وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ. فَلْيَتَّقِ اللَّهَ كُلُّ مَنْ حَمَلَ أَمَانَةً، وَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ سَيُسْأَلُ عَنْهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ. فَالْأَبُ مَسْئُولٌ عَنْ أَهْلِهِ، وَالْأُمُّ مَسْئُولَةٌ عَنْ أَوْلَادِهَا، وَالْمُعَلِّمُ مَسْئُولٌ عَنْ طُلَّابِهِ، وَالْمُوَظَّفُ مَسْئُولٌ عَنْ عَمَلِهِ، وَكُلُّ إِنْسَانٍ مَسْئُولٌ عَمَّا اسْتَرْعَاهُ اللَّهُ عَلَيْهِ.
أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، إِنَّ الْعَدْلَ لَيْسَ شِعَارًا نَرْفَعُهُ، بَلْ هُوَ خُلُقٌ نَعْمَلُ بِهِ فِي بُيُوتِنَا وَأَعْمَالِنَا وَمُعَامَلَاتِنَا. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.
فَاتَّقُوا اللَّهَ، وَاعْدِلُوا مَعَ أَهْلِيكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ، وَاعْدِلُوا مَعَ جِيرَانِكُمْ وَإِخْوَانِكُمْ، وَاعْدِلُوا حَتَّى مَعَ مَنْ اخْتَلَفْتُمْ مَعَهُ. عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ الدُّنْيَا زَائِلَةٌ، وَالْمَنَاصِبَ فَانِيَةٌ، وَالْأَمْوَالَ مُسْتَوْدَعَةٌ، وَلَا يَبْقَى لِلْعَبْدِ إِلَّا عَمَلُهُ الصَّالِحُ وَأَخْلَاقُهُ وَمَا قَدَّمَهُ لِيَوْمِ لِقَاءِ اللَّهِ.
فَاجْتَهِدُوا فِي إِصْلَاحِ أَنْفُسِكُمْ، وَأَصْلِحُوا بُيُوتَكُمْ، وَأَدُّوا أَمَانَاتِكُمْ، وَاحْفَظُوا أَلْسِنَتَكُمْ، وَأَحْسِنُوا إِلَى جِيرَانِكُمْ، وَأَعِينُوا الْمُحْتَاجِينَ، وَكُونُوا مِفْتَاحًا لِلْخَيْرِ وَمِغْلَاقًا لِلشَّرِّ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَأَصْلِحْ أَعْمَالَنَا، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ. اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ فِي الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ، وَارْزُقْنَا الْأَمَانَةَ وَالْعَدْلَ وَحُسْنَ الْخُلُقِ. اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا رُحَمَاءَ بَيْنَنَا، مُتَعَاوِنِينَ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى، وَاجْعَلْنَا سَبَبًا فِي نَشْرِ الْخَيْرِ وَالسَّلَامِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَزْوَاجَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَهْلِنَا وَأَمْوَالِنَا وَأَعْمَالِنَا.
اللَّهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا، وَارْحَمْ مَوْتَانَا، وَفَرِّجْ هُمُومَ الْمَهْمُومِينَ، وَنَفِّسْ كُرُوبَ الْمَكْرُوبِينَ، وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنِ الْمَدِينِينَ. اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا، وَأَمِّنْهَا وَاطْمَئِنْهَا، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَهَا، وَوَفِّقْ أَهْلَهَا لِمَا فِيهِ الْخَيْرُ وَالصَّلَاحُ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
Penyusun: Khazim Mahrur

Komentar0