![]() |
| Model Pembelajaran Project Based Learning (Ilustrasi by AI Gemini |
Oleh: Susi Puji Ningsih, S.Pd. (Guru Bahasa Inggris MTs Ma'arif Sikampuh Kroya Cilacap)
Pendidik di era digital saat ini dihadapkan pada tantangan yang sangat kompleks. Dalam mendidik Generasi Alpha selain kemampuan mentransfer ilmu pengetahuan, hal lain yang harus dimiliki oleh seorang pendidik adalah kecakapan dalam menavigasi arus deras globalisasi.
Generasi Alpha sebagai digital natives yang lahir dan tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi sangat familiar dengan internet, media sosial dan akses informasi tanpa batas dari gawai mereka.
Kecakapan digital Generasi Alpha bagaikan pisau bermata dua, satu sisi memberikan dampak positif dalam perkembangan ilmu pengetahuan namun disisi lain muncul tantangan-tantangan besar tidak terkecuali dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris, terutama kemampuan berbicara (speaking skill).
Masifnya informasi digital membuat Generasi Alpha mengalami degradasi moral berupa lunturnya nilai kesantunan dalam berbicara. Kecakapan dalam mengetik komentar di media sosial tidak dibarengi dengan kemampuan bicara yang baik di dunia nyata.
Mereka merasa kurang percaya diri dan mengalami kecemasan saat mengutarakan ide secara lisan. Hal ini perlu mendapatkan perhatian khusus dari kita sebagai pendidik.
Kita perlu merancang dan mengimplementasikan strategi pembelajaran yang adaptif terhadap teknologi namun tetap memegang teguh nilai-nilai spiritual dan kultural.
Esai reflektif ini sebagai jembatan untuk mengeksplorasi dan mengevaluasi penerapan model pembelajaran Project Based Learning dalam pembelajaran Speaking (story telling) yang saya terapkan di kelas.
Sekaligus sebagai upaya untuk meningkatkan prestasi Speaking Generasi Alpha yang cakap teknologi namun tidak meninggalkan nilai-nilai luhur ajaran Aswaja An Nahdhiyah.
Saya mengintegrasikan nilai-nilai ajaran Aswaja An Nahdhiyah yaitu Tawassuth (moderat), Tawazun (seimbang), I’tidal (Keadilan), dan Tasamuh (toleran) ke dalam desain pembelajaran di kelas Bahasa Inggris sebagai kompas metodologis yang tepat.
Project Based Learning, Story Telling dan Karakter Generasi Alpha
Dalam pembelajaran speaking (story telling), misalnya pada materi teks naratif (narrative text), siswa ditargetkan mampu menyampaikan makna serta langkah-langkah retorika dalam jenis teks transaksional maupun monolog.
Penerapan model pembelajaran konvensional hanya fokus pada kegiatan menghafal teks dan penilaian tata bahasa serta pelafalan kosa kata.
Hal ini menyebabkan pembelajaran menjadi kurang efektif dalam membangun motivasi belajar Generasi Alpha.
Siswa mengalami kecemasan berbahasa karena kegiatan tersebut membatasi mereka untuk tampil ekspresif, menghambat potensi komunikasi spontan yang mereka miliki, memicu rasa takut pada kegiatan public speaking yang dirasa menegangkan dan kuno karena tidak relevan dengan dunia mereka.
Hal ini sangat bertentangan dengan karakteristik Gen Alpha yang digital interkatif yang dalam keseharian mereka sangat akrab dengan vlog pendek seperti Tiktok, Reels, atau You Tube.
Siswa Generasi Alpha membutuhkan metode pembelajaran yang lebih bermakna yang memberikan ruang bagi mereka untuk dapat menggali potensi lebih dalam dengan tetap memperhatikan karakter mereka yang visual ekspresif.
Saya menerapkan model pembelajaran Project Based Learning karena model pembelajaran ini dapat memacu siswa untuk mampu membangun pengetahuan yang mereka miliki melalui sebuah produk yang nyata.
Model pembelajaran Project Based Learning dengan Story Telling menjadi kombinasi yang tepat. Melalui kegiatan story telling, siswa generasi alpha tidak hanya melakukan kegiatan membaca cerita tetapi mereka belajar untuk mengkomunikasikan ide, emosi, perasaan dan intonasi suara secara persuasif.
Sebagai media untuk menjembataninya, siswa diberikan proyek membuat konten Digital Storytelling berupa membuat vlog kisah islami yang inspiratif atau membuat podcast video di Tik Tok, Reels atau You Tube.
Dengan demikian, belajar Bahasa Inggris menjadi sesuatu yang sangat menyatu dengan kehidupan mereka karena menjadi media untuk menyampaikan ide-ide ke ruang publik.
Sintaks Project Based Learning Berbasis Nilai-Nilai Aswaja An Nahdhiyah
Sintaks Project Based Learning yang diiiplementasikan ke dalam
pembelajaran story telling terbagi menjadi enam tahapan yang sistematis dengan
menanamkan nilai-nilai ajaran Aswaja An Nahdhiyah.
Tahap 1 : Penentuan Pertanyaan Mendasar
Guru memberikan pertanyaan pemantik untuk membuka ruang berpikir kritis sebelum siswa masuk lebih jauh ke dalam inti materi : “ How can we inspire teenagers with beautiful values from local Islamic traditions through digital stories?”.
Tema ini menginternalisasi nilai Tawassuth (moderat). Pada fase ini, guru mengarahkan siswa untuk mencari cerita yang mengandung nilai perdamaian dan akhlak mulia seperti legenda lokal, cerita rakyat, atau kisah Wali Songo.
Konsep ini juga termasuk bagian dari mengamalkan kaidah “Al muhafadhatu ‘ala qodimi al-shalih wa al-akhdu bi al jadidi al-ashlah”- Memelihara tradisi lama yang baik, dan mengambil tradisi baru yang jauh lebih baik.
Dalam hal Al muhafadhatu ‘ala qodimi al-shalih siswa diarahkan untuk memnjaga eksistensi kisah-kisah islami serta tradisi lokal yang mengandung nilai-nilai kebaikan.
Sementara konsep wa al-akhdu bi al jadidi
al-ashlah diterapkan melalui penggunaan teknologi masa kini, yaitu merubah
cerita ke dalam bahasa Inggris dalam bentuk digital stories seperti Tiktok, Reels atau Youtube agar pesan
yang disampaikan dapat menjangkau remaja masa kini.
Tahap 2 dan 3: Mendesain Perencanaan Proyek dan Menyusun Jadwal
Siswa bekerja secara kelompok menyusun naskah story telling. Dinamika sosial yang terjadi antar anggota kelompok dalam menyelasaikan tugas menginternalisasi nilai Tasamuh (toleran).
Karakter Generasi Alpha yang individualis dan mementingkan ego perlahan pudar karena mereka dituntut untuk berdiskusi, melakukan pembagian tugas penyelesaian proyek sebagai narator, editor atau pengisi suara dalam story telling.
Selain itu mereka juga belajar
menghargai perbedaan tingkat kemampuan berbahasa dari setiap anggota kelompok.
Tahap 4 : Memonitor Kemajuan Proyek
Nilai Tawazzun (keseimbangan) diinternalisasi pada tahap ini. Siswa belajar menyeimbangkan pemanfaatan teknologi modern untuk membuat video story telling menggunakan aplikasi Canva atau CapCut namun dengan tetap menanamkan nilai kesantunan dalam berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris, tidak mengandung unsur pembulian, menepis konten hoaks, dan menjaga hak cipta.
Dengan internalisasi nilai tawazzun tersebut siswa akan dilatih menjadi warga digital yang bijak dan bertanggung jawab terhadap konten yang mereka buat.
Tahap 5 dan 6 : Menguji Hasil dan Mengevaluasi Pengalaman Belajar
Pada tahap akhir proyek, setiap kelompok mempresentasikan karya digital story telling dan melakukan pertunjukan secara langsung di depan kelas.
Dalam melakukan penilaian hasil karya siswa, guru memegang prinsip nilai I’tidal (keadilan). Setiap kelompok diminta untuk memberikan penilaian dan umpan balik terhadap hasil proyek kelompok lain dengan adil dan objektif.
Unsur- unsur yang dinilai meliputi pengucapan (pronounciation), intonasi (intonation) dan kelancaran (fluency).
Prinsip I’tidal mengajarkan siswa tentang bagaimana memberikan kritik dengan bahasa yang santun dan membangun (qawlan layyinan), mental mereka juga dilatih untuk terbiasa menerima saran dan kritik perbaikan dari orang lain sehingga skill berbicara (speaking) mereka akan semakin baik.
Dampak Terhadap Prestasi Siswa
Penerapan model pembelajaran Project Based Learning untuk meningkatkan kemampuan speaking (story telling) Generasi Alpha berbasis nilai-nilai Aswaja An Nahdhiyah ini memberikan dampak yang baik terhadap prestasi speaking siswa.
Terdapat peningkatan yang signifikan pada aspek pengucapan (pronounciation) dan kelancaran (fluency).
Proses perekaman suara
yang dilakukan berulangkali saat proses pembuatan video menjadi media drilling
alami yang menjadikan rasa percaya diri siswa terus meningkat.
Penanaman nilai nilai karakter juga semakin tumbuh segar. Mereka semakin berani tampil ekspresif saat berbicara dalam Bahasa Inggris di depan umum.
Dengan penuh rasa percaya diri mereka menyampaikan cerita yang syarat
dengan nilai-nilai keislaman dan nilai toleransi khas nusantara untuk menebar
kemaslahatan bagi sesama.
Selain itu beberapa tahun terakhir, siswa kami juga berhasil mendapatkan juara dalam beberapa event perlombaan Bahasa Inggris seperti story telling dan juga speech (pidato) mulai dari tingkat KKM, Kabupaten dan juga provinsi.
Hal ini menjadi pencapaian yang luar biasa bagi kami karena siswa mampu berkompetisi dengan skill berbicara (speaking) yang mereka miliki.
Kesimpulan dan Rekomendasi
Melalui esai reflektif ini dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam mendidik siswa Generasi Alpha dibutuhkan integrasi yang harmonis mulai dari pemanfaatan teknologi, inovasi pembelajaran dan juga penanaman nilai-nilai ajaran Aswaja An Nahdhiyah.
Model pembelajaran Project Based learning yang saya kaitkan dengan pembelajaran story telling terbukti mampu mencetak siswa yang berprestasi yang mampu memegang teguh prinsip-prinsip ajaran Aswaja An Nahdhiyah yang meliputi sifat tawassuth dalam berpikir, tawazzun dalam menggunakaan teknologi, I’tidal dalam bersikap, dan tasamuh dalam kehidupan sosial.
Saya sebagai guru Bahasa Inggris sekaligus sebagai peserta pelatihan 500 Madrasah/ Sekolah Berstandar Global yang diselenggarakan oleh LP. Ma’arif NU bekerjasama dengan Pearson, berkomitmen untuk terus berinovasi, menciptakan pembelajaran Bahasa Inggris yang berkualitas sehingga siswa siap bersaing di dunia global namun tetap tetap memilik kepribadian yang mulia. (*)

Komentar0