![]() |
| Pimpinan Pusat PGMM, PGSI dan FTHMI menyambangi kantor Kemenag dan DPR RI (Foto: Ist) |
Ketua Umum PGMM, Tedi Malik, menegaskan pihaknya
siap kembali menggelar aksi dengan massa yang jauh lebih besar dari sebelumnya apabila aspirasi
guru madrasah swasta tidak segera ditindaklanjuti oleh pemerintah.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul polemik
usai Menteri Agama dalam rapat kerja bersama Komisi VIII DPR RI pada 30 Juni
2026 menyampaikan rencana memprioritaskan pengangkatan sekitar 18.000 guru
honorer di sekolah negeri menjadi ASN.
Kebijakan tersebut memicu keresahan di kalangan
guru madrasah swasta yang merasa kembali tersisih, padahal selama ini mereka
juga telah mengabdi bertahun-tahun di lembaga pendidikan di bawah naungan
Kementerian Agama.
PGMM Datangi Kemenag dan DPR
Sebagai bentuk tindak lanjut, rombongan PGMM
mendatangi Kementerian Agama di Jakarta, Kamis (3/7/2026).
Rombongan dipimpin langsung oleh Ketua Umum PGMM,
Tedi Malik, bersama jajaran pengurus. Mereka diterima oleh Direktur Pendidikan
Agama Islam (PAI), Munir.
Dalam pertemuan tersebut, PGMM menyampaikan
berbagai aspirasi sekaligus meminta klarifikasi terkait pernyataan Menteri
Agama yang dianggap menimbulkan keresahan di kalangan guru madrasah swasta.
Usai bertemu pihak Kementerian Agama, rombongan
melanjutkan audiensi dengan Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal serta
Ketua Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang.
Turut hadir dalam pertemuan tersebut organisasi
profesi lainnya, yakni Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) dan Forum Tenaga
Honorer Madrasah Indonesia (FTHMI).
Tedi Malik: 18 Ribu Formasi Bukan untuk Guru Madrasah
Usai melakukan serangkaian pertemuan, Tedi Malik
menjelaskan bahwa informasi yang berkembang mengenai prioritas pengangkatan
18.000 guru honorer perlu diluruskan.
Menurutnya, angka tersebut merupakan simulasi
kebutuhan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah umum, bukan formasi bagi
guru madrasah.
"Jadi pernyataan Pak Menteri itu kemarin
menjawab simulasi guru-guru PAI yang ada di sekolah. Jadi yang 18.000 itu
guru-guru PAI, bukan guru madrasah," ujar Tedi, dikutip dari Portaloka.id, Jumat (3/7/2026).
Meski demikian, ia menilai persoalan tersebut belum
sepenuhnya selesai karena hingga kini belum ada kepastian mengenai nasib guru
madrasah swasta dalam skema pengangkatan ASN.
DPR Sebut Kebijakan Masih Berproses
Dalam audiensi tersebut, pimpinan DPR RI
menyampaikan bahwa rencana pengangkatan guru honorer tersebut masih belum
menjadi keputusan final.
Pembahasan masih terus dilakukan bersama
Kementerian Agama dan kementerian terkait agar kebijakan yang dihasilkan nantinya
mampu mengakomodasi kepentingan seluruh guru madrasah, baik yang mengajar di
madrasah negeri maupun swasta.
Informasi itu sedikit memberikan harapan bagi guru
madrasah swasta yang selama ini menunggu kepastian terkait kesempatan
memperoleh status ASN.
PGMM Siapkan Aksi Lebih Besar
Meski mendapat penjelasan dari DPR, PGMM menegaskan
akan terus mengawal proses tersebut hingga benar-benar menghasilkan kebijakan
yang berpihak kepada seluruh guru madrasah.
Tedi Malik menegaskan, apabila aspirasi guru
madrasah swasta kembali diabaikan atau tidak segera direalisasikan,
organisasinya siap menggelar aksi lanjutan dengan jumlah peserta yang jauh
lebih besar dibandingkan aksi sebelumnya.
"Ketika ini masih belum bisa dieksekusi, kita
siap balik lagi ke jalan. Akan menurunkan kekuatan tiga kali lipat dari
kemarin," tegasnya.
Menurut Tedi, guru madrasah swasta selama ini telah menunjukkan dedikasi yang sama dalam mencerdaskan anak bangsa.
Karena itu,
mereka berharap pemerintah tidak membedakan perlakuan antara guru di madrasah
negeri dan swasta dalam penyusunan kebijakan kesejahteraan maupun pengangkatan
ASN.
Tedi juga menegaskan akan terus memperjuangkan hak-hak
guru madrasah swasta melalui jalur dialog maupun aksi jika diperlukan, hingga
pemerintah memberikan kepastian yang adil bagi seluruh tenaga pendidik di
lingkungan madrasah. (kzm)

Komentar0