![]() |
| Ilustrasi kekeringan (Foto: Istimewa) |
Musim kemarau
panjang mulai memberikan dampak nyata di sejumlah wilayah Indonesia. Kekeringan
menyebabkan sumber air menipis, kebutuhan air bersih meningkat, hingga
mengancam aktivitas pertanian dan kehidupan masyarakat.
Data
kebencanaan yang dihimpun pemerintah menunjukkan kekeringan masih menjadi salah
satu bencana yang dominan di sejumlah daerah.
BNPB,
misalnya, pada akhir Juli 2026 mencatat bahwa sebanyak 13 provinsi di Indonesia
mengalami kekeringan.
Dari total
wilayah terdampak, sebanyak enam provinsi serta 47 kabupaten/kota telah
menetapkan status siaga darurat sebagai langkah menghadapi kondisi kekeringan.
Di tengah
kondisi tersebut, umat Islam tidak hanya dianjurkan melakukan ikhtiar secara
lahiriah, tetapi juga
melakukan ikhtiar batin dengan cara-cara yang diajarkan Rasulullah SAW, salah satunya melaksanakan sholat Istisqa.
Berikut ini
tuntunan Rasulullah SAW saat terjadi kemarau panjang sebagimana dilansir dari
berbagai sumber, Selasa (08/09/26).
Rasulullah
SAW Mengajarkan Shalat Istisqa
Salat Istisqa
bukanlah ibadah yang baru muncul di masa sekarang. Rasulullah SAW pernah
melaksanakannya ketika masyarakat mengalami kekeringan.
Dalam sebuah
hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW keluar menuju tempat
pelaksanaan salat untuk memohon hujan. Beliau kemudian melaksanakan salat dua
rakaat tanpa azan dan iqamah, dilanjutkan dengan khutbah dan doa kepada Allah
SWT.
Dalam
pelaksanaannya, Salat Istisqa memiliki kemiripan dengan Salat Id. Setelah
takbiratul ihram, pada rakaat pertama dilakukan tujuh kali takbir dan pada
rakaat kedua lima kali takbir, kemudian salat dilanjutkan sebagaimana biasa
hingga salam.
Setelah itu disampaikan khutbah yang berisi ajakan untuk
bertaubat, memohon ampun, memperbanyak istighfar, serta berdoa agar Allah SWT
menurunkan hujan.
Memperbanyak Istighfar
Kemarau
panjang juga menjadi momentum bagi seorang Muslim untuk melakukan introspeksi
diri. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Nuh ayat 10-12:
“Mohonlah
ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan
hujan kepadamu dengan lebat.”
Ayat tersebut
menunjukkan hubungan antara istighfar dan permohonan rahmat Allah SWT. Karena
itu, ketika menghadapi kondisi sulit seperti kekeringan, umat Islam dianjurkan
memperbanyak istighfar dan kembali mendekatkan diri kepada Allah.
Bukan berarti
setiap kekeringan dapat secara sederhana dianggap sebagai akibat dosa manusia.
Kekeringan merupakan fenomena yang memiliki berbagai faktor alam dan iklim.
Namun, bagi seorang Muslim, musibah tetap dapat menjadi kesempatan untuk
memperbaiki hubungan dengan Allah sekaligus memperbaiki perilaku terhadap sesama
dan lingkungan.
Doa Rasulullah SAW saat Kekeringan
Di antara doa
yang dinukil dari Rasulullah SAW dalam konteks memohon hujan adalah:
اللَّهُمَّ أَنْتَ
اللَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَنْتَ الْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ، أَنْزِلْ
عَلَيْنَا الْغَيْثَ، وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ عَلَيْنَا قُوَّةً وَبَلَاغًا إِلَى
حِينٍ
Allahumma
antallah, la ilaha illa anta, antal-ghaniyyu wa nahnul-fuqara', anzil
'alainal-ghaitsa, waj'al ma anzalta 'alaina quwwatan wa balaghan ila hin.
Artinya: “Ya
Allah, Engkaulah Allah, tidak ada Tuhan selain Engkau. Engkau Mahakaya,
sedangkan kami adalah orang-orang yang membutuhkan. Turunkanlah hujan kepada
kami dan jadikanlah apa yang Engkau turunkan sebagai kekuatan dan bekal bagi
kami hingga waktu yang ditentukan.”
Doa tersebut
menggambarkan sikap seorang hamba ketika menghadapi kesulitan: mengakui
kelemahan diri, menyadari bahwa seluruh kebutuhan berada dalam kuasa Allah SWT,
kemudian memohon pertolongan-Nya.
Tidak Hanya Berdoa, tetapi Juga Berikhtiar
Tuntunan
Islam dalam menghadapi kekeringan tidak berarti umat hanya menunggu hujan
turun. Ikhtiar
lahiriah tetap penting.
Masyarakat perlu menghemat penggunaan air, menjaga
sumber mata air, tidak melakukan pembakaran lahan, serta membantu warga yang
kesulitan mendapatkan air bersih.
Pemerintah
dan BPBD di sejumlah daerah juga terus melakukan distribusi air bersih sebagai
penanganan langsung bagi masyarakat terdampak.
BNPB mencatat, misalnya,
distribusi air bersih dilakukan di berbagai wilayah yang mengalami kekeringan
pada musim kemarau 2026.
Dengan
demikian, doa dan ikhtiar berjalan beriringan. Salat Istisqa menjadi ikhtiar
spiritual, sementara pengelolaan air, distribusi bantuan, konservasi
lingkungan, dan berbagai langkah mitigasi menjadi ikhtiar secara nyata.
Kemarau Menjadi Momentum Memperbaiki Diri
Kemarau
panjang mengingatkan manusia bahwa air merupakan nikmat yang sering kali baru
terasa nilainya ketika sulit diperoleh.
Karena itu,
kondisi kekeringan semestinya tidak hanya melahirkan kekhawatiran, tetapi juga
kepedulian. Mereka yang memiliki kecukupan air dapat membantu tetangga yang
kekurangan.
Pemerintah perlu memastikan bantuan menjangkau masyarakat yang
paling terdampak. Sementara umat Islam dapat memperbanyak doa, istighfar,
sedekah, dan amal kebajikan.
Shalat Istisqa
pun telah dilakukan di sejumlah daerah Indonesia pada 2026 sebagai bentuk
ikhtiar bersama. Kementerian Agama Kabupaten Majene, misalnya, melaksanakan
Salat Istisqa pada 1 September 2026 di tengah kondisi kekeringan yang dirasakan
masyarakat setempat.
Di Sulawesi
Selatan, pemerintah provinsi juga melaksanakan Salat Istisqa pada 8 September
2026 untuk memohon hujan di tengah kemarau panjang yang berdampak pada sejumlah
wilayah.
Penutup
Kekeringan
adalah ujian yang membutuhkan kesabaran sekaligus tindakan nyata. Bagi umat
Islam, kemarau panjang juga menjadi momentum untuk kembali mengingat kebesaran
Allah SWT.
Rasulullah
SAW telah memberikan tuntunan ketika manusia menghadapi kekeringan, salah
satunya melalui Salat Istisqa dan doa memohon hujan.
Bersamaan
dengan itu, umat dianjurkan memperbanyak istighfar, bertaubat, meningkatkan
kepedulian sosial, serta menjaga lingkungan.
Semoga hujan
segera turun dengan membawa manfaat, menyegarkan sumber-sumber air, menyuburkan
tanah, membantu para petani, dan menjadi rahmat bagi seluruh makhluk.
"Allahumma
sayyiban nafi'an. Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat bagi kami.”
Penulis: Khazim Mahrur

Komentar0