TpY8Tfd7TUzpTSzpBSz6BUO5Td==

Tegas! Islah Bahrawi Soroti Dugaan Aliran Uang di Balik Muktamar NU ke-35

 

Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia dan Pengamat Terorisme, Islah Bahrawi (Tangkap Layar YouTube Terus Terang Media)

Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia sekaligus pengamat terorisme Islah Bahrawi melontarkan sorotan keras terkait dugaan adanya aliran uang dalam penyelenggaraan Mukhtamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35.


Pernyataan tersebut disampaikan Islah dalam tayangan YouTube Terus Terang Media, Kamis (8/10/2026). Ia menyinggung dugaan praktik transaksional yang menurutnya dapat menjadi persoalan serius bagi organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut.

 

Islah menyampaikan hal tersebut saat membahas dinamika internal organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dan dugaan kepentingan tertentu yang dinilai dapat memengaruhi perjalanan organisasi keagamaan tersebut.

 

Islah bahkan mengaitkan persoalan tersebut dengan pernyataan yang pernah disampaikan Eros Jarot mengenai kerentanan sebagian kader NU terhadap tawaran uang.

 

“Betul apa yang pernah dikatakan oleh Eros Jarot. Titik lemahnya orang-orang NU itu satu. Ketika dia ditawari uang, dia langsung lemah seketika. Miris!” tegas Islah.

 

Ia kemudian menyerukan agar NU dijaga dari kepentingan pribadi maupun kepentingan politik yang dinilai dapat menggeser tujuan awal organisasi.

 

“Tolong selamatkan organisasi ini. Jangan pernah membajak jubah-jubah kesalehan dan jubah-jubah Nahdliyin hanya untuk kepentingan pribadinya. Wallahi kita tidak mau NU ini hanya menjadi tunggangan-tunggangan politik,” sambungnya.

 

Islah: Jangan Perdagangkan Nama Pendiri NU

 

Dalam pernyataannya, Islah juga mengingatkan agar nama para pendiri dan ulama yang membangun Nahdlatul Ulama tidak digunakan untuk kepentingan tertentu.

 

“Janganlah kita kemudian berteriak di mana pun mengangkat nama muasis, memperdagangkan para founding fathers-nya Nahdlatul Ulama,” terangnya.

 

Islah mengatakan, muncul tudingan dari berbagai pihak yang mempertanyakan apakah organisasi keagamaan dapat dimanfaatkan sebagai sarana mencari keuntungan maupun kendaraan politik.

 

Menurut dia, kritik tersebut perlu menjadi bahan refleksi agar NU tetap menjalankan peran sosial dan kebangsaan sesuai nilai-nilai yang selama ini melekat pada organisasi tersebut.

 

Ingin NU Jadi Motor Cinta Tanah Air

 

Lebih lanjut, Islah menyampaikan harapannya agar NU dapat menjadi kekuatan utama dalam mendorong masyarakat Indonesia untuk mencintai negara.

 

“Saya pribadi ingin NU ini menjadi motor utama kepada orang-orang di seluruh Indonesia ini untuk mencintai negaranya. Bukan menjadi penjilat-penjilat material, penjilat-penjilat uang, dan penjilat-penjilat kekuasaan.” tandasnya.


Ia juga menyampaikan kritik keras terhadap pihak-pihak yang, menurut pandangannya, berusaha memanfaatkan NU untuk kepentingan pribadi.

 

“Semoga orang-orang jahat yang memanfaatkan NU untuk memperkaya diri ini tidak mendapatkan barokah para muasis Nahdatul Ulama. Mudah-mudahan mereka terpuruk, tidak mendapatkan barokahnya Mbah Kiai Hasyim As'ari beserta para ulama lain yang sudah berdarah-darah, berkeringat habis-habisan untuk mendirikan Nahdatul Ulama sebelum kemerdekaan lalu,” pungkasnya. (*)

Komentar0

Type above and press Enter to search.