![]() |
| Ilustrasi Sufi Cilik dan Sa'ad bin Fath (Created by AI) |
Sufi
cilik ini dikenal memiliki kebiasaan yang tidak biasa bagi anak seusianya.
Lisannya hampir tidak pernah lepas dari lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an, seolah setiap
hembusan napasnya selalu diisi dengan zikir dan bacaan yang mengingatkan
dirinya kepada Sang Pencipta.
Kebiasaan
tersebut membuat Sa'ad bin Fath merasa takjub sekaligus
tersentuh. Dari dirinya, tergambar bahwa kedekatan kepada Allah tidak selalu
ditentukan oleh usia, melainkan oleh ketulusan hati dan kesadaran spiritual
yang tumbuh sejak dini.
Berikut
ini kisahnya sebagaimana disarikan dari buku yang berjudul “Butir-butir Hikmah
Sufi” karya KH. M.A. Fuad Hasyim.
Sufi Cilik Bertemu Sa'ad bin Fath
![]() |
| Ilustrasi Sufi Cilik dan Sa'ad bin Fath (Created by AI) |
Semakin
dekat, tampak bahwa sosok itu adalah seorang bocah cilik, kira-kira berusia
sekitar sepuluh tahun. Anak itu berjalan dengan tenang, tanpa terlihat rasa
takut atau gelisah, meski berada di tengah padang pasir yang luas dan sunyi.
Yang
menarik perhatian Sa’ad bin Fath, bocah itu tampak menggerak-gerakkan kedua
bibirnya seolah sedang berzikir atau melafalkan sesuatu dengan khusyuk.
Gerakannya tenang, wajahnya pun terlihat damai, seakan ia tidak terganggu oleh
panasnya matahari yang menyengat.
Lisannya Selalu Terpaut dengan Al-Qur'an
![]() |
| Gambar Ilustrasi Sufi Cilik (Created by AI) |
“Assalamu’alaikum,
mau kemana nak?” ucapnya dengan lembut, membuka pertemuan singkat yang penuh
keheningan dan rasa ingin tahu di tengah luasnya padang pasir. “Aku mau ke
rumah Tuhan,” jawabnya.
“Mengapa
kamu selalu menggerak-gerakkan bibirmu?” tanya Sa’ad. “Aku selalu membaca kalam
Tuhanku,” jawabnya singkat. “Kamu masih sangat muda dan belum terkena tuntutan
ajaran Allah,” sahut Sa’ad. “Aku melihat maut menjemput manusia yang usianya
lebih muda dari aku,” timpalnya.
Sa’ad pun kembali mengingatkan bahwa perjalanannya itu sangat jauh dan menanyakan bekal yang ia bawa untuk kebutuhan perjalananya.
Namun, anak kecil itu dengan penuh keyakinan merasa tidak memerlukan bekalnya. Ia berpendapat bahwa saat dirinya diundang oleh Allah ke rumahnya maka tentu saja tidak pantas kalau dirinya membawa bekal.
Ia berkeyakinan bahwa Allah SWT akan mencukupi segala
hajatnya selama di perjalanan menuju rumah-Nya. (*)
.png)
.png)
.png)
Komentar0