TpY8Tfd7TUzpTSzpBSz6BUO5Td==

Kisah Hikmah: Sufi Cilik yang Lisannya Senantiasa Terpaut dengan Al-Qur'an

Ilustrasi Sufi Cilik dan Sa'ad bin Fath (Created by AI)
detikilmu.com - Di tengah kehidupan yang penuh hiruk pikuk dan berbagai godaan dunia, kisah-kisah penuh hikmah sering kali hadir sebagai pengingat yang menyejukkan hati. Salah satunya adalah kisah tentang seorang anak kecil yang sejak usia belia telah menunjukkan kecintaan mendalam terhadap kalam Allah.

Sufi cilik ini dikenal memiliki kebiasaan yang tidak biasa bagi anak seusianya. Lisannya hampir tidak pernah lepas dari lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an, seolah setiap hembusan napasnya selalu diisi dengan zikir dan bacaan yang mengingatkan dirinya kepada Sang Pencipta.

Kebiasaan tersebut membuat Sa'ad bin Fath merasa takjub sekaligus tersentuh. Dari dirinya, tergambar bahwa kedekatan kepada Allah tidak selalu ditentukan oleh usia, melainkan oleh ketulusan hati dan kesadaran spiritual yang tumbuh sejak dini.

Berikut ini kisahnya sebagaimana disarikan dari buku yang berjudul “Butir-butir Hikmah Sufi” karya KH. M.A. Fuad Hasyim.

Sufi Cilik Bertemu Sa'ad bin Fath

Ilustrasi Sufi Cilik dan Sa'ad bin Fath (Created by AI)

Di tengah teriknya padang pasir yang panas dan gersang, Sa’ad bin Fath menempuh perjalanan seorang diri. Di kejauhan, Sa’ad bin Fath melihat sosok kecil berjalan perlahan di atas hamparan pasir.

Semakin dekat, tampak bahwa sosok itu adalah seorang bocah cilik, kira-kira berusia sekitar sepuluh tahun. Anak itu berjalan dengan tenang, tanpa terlihat rasa takut atau gelisah, meski berada di tengah padang pasir yang luas dan sunyi.

Yang menarik perhatian Sa’ad bin Fath, bocah itu tampak menggerak-gerakkan kedua bibirnya seolah sedang berzikir atau melafalkan sesuatu dengan khusyuk. Gerakannya tenang, wajahnya pun terlihat damai, seakan ia tidak terganggu oleh panasnya matahari yang menyengat.

Lisannya Selalu Terpaut dengan Al-Qur'an

Gambar Ilustrasi Sufi Cilik (Created by AI)

Merasa penasaran sekaligus takzim dengan pemandangan itu, Sa’ad bin Fath pun mendekat dan mengucapkan salam kepada bocah tersebut.

“Assalamu’alaikum, mau kemana nak?” ucapnya dengan lembut, membuka pertemuan singkat yang penuh keheningan dan rasa ingin tahu di tengah luasnya padang pasir. “Aku mau ke rumah Tuhan,” jawabnya.

“Mengapa kamu selalu menggerak-gerakkan bibirmu?” tanya Sa’ad. “Aku selalu membaca kalam Tuhanku,” jawabnya singkat. “Kamu masih sangat muda dan belum terkena tuntutan ajaran Allah,” sahut Sa’ad. “Aku melihat maut menjemput manusia yang usianya lebih muda dari aku,” timpalnya.

Sa’ad pun kembali mengingatkan bahwa perjalanannya itu sangat jauh dan menanyakan bekal yang ia bawa untuk kebutuhan perjalananya. 

Namun, anak kecil itu dengan penuh keyakinan merasa tidak memerlukan bekalnya. Ia berpendapat bahwa saat dirinya diundang oleh Allah ke rumahnya maka tentu saja tidak pantas kalau dirinya membawa bekal. 

Ia berkeyakinan bahwa Allah SWT akan mencukupi segala hajatnya selama di perjalanan menuju rumah-Nya. (*)

 

 

 

 

  

Komentar0

Type above and press Enter to search.