![]() |
| Peluncuran buku Islam ala Prabowo (Tangkap Layar: fb @Beragam Fakta) |
Sebuah buku yang mengangkat sisi keislaman Presiden Prabowo Subianto mendadak menjadi sorotan. Bukan semata karena isinya, melainkan karena sejumlah nama ulama yang tercantum di dalamnya justru menyatakan tidak pernah menulis atau mengirimkan naskah sebagaimana yang tercantum dalam buku tersebut.
Buku tersebut semula hadir sebagai karya yang mencoba membaca perjalanan, karakter, spiritualitas, serta kepemimpinan Prabowo Subianto dari perspektif nilai-nilai Islam.
Namun, pada September 2026, perhatian publik bergeser kepada persoalan pencantuman nama sejumlah tokoh agama di dalamnya.
Pertanyaannya sederhana, tetapi serius: Bagaimana
mungkin nama seorang ulama tercantum sebagai penulis sebuah tulisan jika yang
bersangkutan menyatakan tidak pernah mengirimkan tulisan tersebut?
Catut Nama Ulama Nusantara
Salah satu nama yang menjadi sorotan adalah Prof.
Dr. KH Said Aqil Siroj, mantan Ketua Umum PBNU. Nama Said Aqil tercantum pada
bagian “Berislam Nusantara Ala Prabowo Subianto”. Tulisannya itu tercantum pada
halaman 129.
Namun melalui sekretaris pribadinya, M. Sofwan
Erce, Said Aqil menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menulis, menyusun, maupun
memberikan tulisan untuk buku tersebut.
Keberatan itu bahkan disertai permintaan agar nama
Said Aqil dihapus dari buku dan peredarannya dihentikan sementara sampai
dilakukan revisi.
Bukan hanya Said Aqil. Nama Tuan Guru Bajang (TGB)
Muhammad Zainul Majdi juga tercantum dalam buku tersebut sebagai penulis
tulisan berjudul “Visi Keislaman Prabowo Subianto: Moderasi, Keadilan dan
Pembaharuan Dialektika Keagamaan”. Tulisan itu tercantum pada halaman 241.
Ketika seorang warganet menanyakan apakah dirinya
mengirimkan tulisan untuk buku tersebut, TGB memberikan jawaban singkat: “Saya
tidak pernah kirim tulisan.”
Pernyataan serupa datang dari KH Muhammad
Abdurrahman Al-Kautsar atau Gus Kautsar, pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso,
Kediri.
Nama Gus Kautsar tercantum sebagai penulis tulisan
“Dukungan Pesantren untuk Prabowo Subianto”. Namun Gus Kautsar menyampaikan
keberatan, terutama mengenai judul tulisan dan tidak adanya transparansi ketika
buku tersebut diterbitkan. Ia menyatakan pihaknya tidak pernah diberi tahu
mengenai penerbitan buku tersebut.
Ketika Nama Ulama Menjadi Persoalan
Persoalan ini menjadi sensitif karena nama ulama
bukan sekadar nama dalam daftar isi. Dalam konteks masyarakat Indonesia,
khususnya komunitas pesantren dan Nahdlatul Ulama, nama seorang kiai membawa
otoritas moral, keilmuan, dan sosial.
Ketika nama tersebut ditempatkan di bawah sebuah
judul tulisan, pembaca secara alamiah dapat memahami bahwa tokoh yang
bersangkutan adalah orang yang menyampaikan atau bertanggung jawab atas tulisan
tersebut.
Di sinilah persoalan Islam Ala Prabowo menjadi
lebih besar daripada sekadar persoalan teknis penerbitan. Jika seorang tokoh
memang memberikan tulisan, tentu dapat dijelaskan kapan naskah diserahkan,
melalui siapa, dan dalam kapasitas apa.
Tetapi jika yang bersangkutan menyatakan tidak
pernah mengirimkan tulisan, maka publik berhak mendapatkan penjelasan: dari
mana naskah itu berasal dan atas dasar apa nama tokoh tersebut dicantumkan
sebagai penulis?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan karena
beberapa media telah memberitakan adanya bantahan dari lebih dari satu tokoh.
Bukan Sekadar Persoalan Buku
Polemik ini tidak semestinya buru-buru diarahkan
menjadi pertarungan politik antara pendukung dan penentang Prabowo. Justru
persoalan yang lebih mendasar adalah etika, transparansi, dan akurasi dalam
penerbitan.
Sebuah buku boleh memiliki sudut pandang. Penulis
juga memiliki hak untuk menafsirkan sebuah fenomena. Namun ketika menyangkut
nama seorang tokoh sebagai penulis atau kontributor, persoalannya menjadi
berbeda.
Nama adalah identitas. Tulisan adalah tanggung
jawab. Dan mencantumkan seseorang sebagai penulis membawa konsekuensi bahwa
gagasan yang tertulis di bawah namanya merupakan sesuatu yang dapat
dipertanggungjawabkan oleh orang tersebut.
Karena itu, klarifikasi para ulama tersebut patut
ditempatkan sebagai bagian penting dari pemberitaan, bukan sekadar polemik
media sosial.
Luka yang Lebih Dalam
Yang membuat persoalan ini terasa menyakitkan bagi
sebagian ulama bukan hanya munculnya nama mereka. Ada persoalan tentang
kepercayaan.
Para kiai dan ulama selama puluhan tahun membangun otoritasnya melalui pendidikan, dakwah, pesantren, pengabdian, dan hubungan panjang dengan umat.
Ketika nama mereka tiba-tiba muncul dalam sebuah karya
yang berkaitan dengan figur politik nasional, publik tentu dapat
menginterpretasikannya sebagai bentuk dukungan, kesaksian, atau legitimasi.
Padahal, setidaknya berdasarkan klarifikasi yang
telah disampaikan, beberapa tokoh tersebut justru menyatakan tidak pernah
mengirimkan tulisan untuk buku itu.
Inilah yang membuat polemik tersebut tidak lagi
berhenti pada soal teknis penulisan. Ada nama yang dipertaruhkan. Ada reputasi
yang dipertaruhkan. Dan ada kepercayaan publik yang ikut dipertaruhkan.
Publik Menunggu Penjelasan
Sampai polemik ini mencuat, pertanyaan terbesar justru berada pada pihak yang menyusun dan menerbitkan buku.
Bagaimana
mekanisme pengumpulan naskah dilakukan? Apakah seluruh nama yang tercantum
sebagai penulis memang menyerahkan naskah? Jika terdapat naskah atau materi
yang digunakan, dari mana sumbernya?
Dan yang paling penting, apakah para tokoh yang namanya tercantum telah memberikan persetujuan untuk dicantumkan sebagai penulis atau kontributor?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan jawaban
yang terang agar polemik tidak berkembang menjadi spekulasi. Sebab buku bukan
hanya kumpulan halaman. Di dalamnya ada nama, gagasan, reputasi, dan tanggung
jawab.
Dan ketika sejumlah ulama Nusantara mengatakan
bahwa mereka tidak pernah menulis atau mengirimkan tulisan yang dikaitkan
dengan nama mereka, publik tentu layak bertanya:
Mengapa nama mereka dicantumkan? Dan untuk apa
nama-nama ulama tersebut dihadirkan dalam buku Islam Ala Prabowo?
Sampai pertanyaan-pertanyaan itu terjawab secara
terbuka, luka yang muncul dari polemik ini akan tetap menjadi tanda tanya besar
di balik buku yang sejatinya berbicara tentang Islam, keteladanan, dan
kepemimpinan.

Komentar0