![]() |
| Shalat Istisqa adalah shalat untuk memohon turunnya hujan (Ilustrasi by AI) |
Salah satu kebutuhan penting bagi manusia, hewan
dan tumbuh-tumbuhan adalah air. Sedemikian pentingnya keberadaan air, maka kelangkaannya
menyebabkan seluruh makhluk hidup akan hidup susah.
Saat terjadi kelangkaan air yang terjadi akibat
kemarau panjang seperti saat ini, maka Islam mengajarkan untuk memohon
pertolongan kepada Allah SWT.
Salah satu ibadah yang intinya meminta pertolongan
Sang Pencipta ialah dengan melaksanakan shalat Istisqa.
Sebelum melaksanakan shalat Istisqa, penting untuk mengetahui tata cara shalat Istisqa yang benar sesuai tuntunan syariat.
Pengertian Shalat Istisqa
Secara bahasa 'Istisqa artinya meminta curahan atau turunnya air penghidupan. Dalam bahasa Arab disebut sebagai thalab al-saqaya, artinya meminta turunnya air hujan.
Shalat istisqa adalah shalat sunah dua rakaat yang dilakukan untuk memohon turunnya air hujan ketika suatu daerah dilanda kemarau panjang yang menyebabkan daerah itu mengalami kekeringan dan kekurangan air.
Hukum Shalat Istisqa
Hukum shalat Istisqa adalah sunnah muakkad, artinya sunnah yang sangat dianjurkan untuk melaksanakannya, baik bagi laki-laki maupun perempuan.
Shalat Istisqa ini statusnya bisa menjadi wajib apabila ada perintah dari pemerintah untuk melaksanakannya.
Shalat Istisqa juga sunah dilaksanakan secara berjamaah dan dianjurkan dilaksanakan di tempat yang luas seperti lapangan.
Ulama juga menganjurkan agar memakai pakaian yang sederhana dan menghindari pakaian-pakaian yang mewah.
Waktu dan Tata Cara Shalat Istisqa
Waktu pelaksanaan shalat Istisqa dianjurkan pada siang hari sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidah 'Aisyah RA:
خَرَجَ رَسُوْلُ الله حِينَ بَدَا حَاجِبُ الشَّمْسِ
"Rasulullah SAW mengerjakan shalat Istisqa setelah matahari muncul di atas permukaan bumi"
Berdasarkan hadis di atas, Rasulullah SAW mengerjakan shalat Istisqa setelah matahari muncul di atas permukaan bumi sebagaimana beliau melaksanakan shalat Idul Fitri dan Idul Adha.
Adapun tata cara shalat Istisqa yang sesuai tuntunan Rasulullah SAW adalah sebagai berikut:
1. Imam dan makmum berkumpul di tanah lapang untuk mengerjakan shalat Istisqa.
2. Imam dan makmum tanpa didahului adzan dan iqamat berniat melaksanakan shalat Istisqa.
Jika sebagai imam, maka lafal niatnya sebagai berikut:
اُصَلِّ سُنَّةَ الْاِسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلاً الْقِبْلَةِ إِمَامًا لِلّهِ تَعَالَى
Ushallî sunnatal istisqâ'i rak'ataini mustaqbilal qiblati imâmal lillâhi ta'âlâ
Artinya: "Aku niat melaksanakan shalat sunah Istisqa dua rakaat, menghadap kiblat sebagai imam karena Allah Ta'ala."
Jika sebagai makmum maka lafal niatnya sebagai berikut:
اُصَلِّ سُنَّةَ الْاِسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلاً الْقِبْلَةِ مَأْمُوْمًا لِلّهِ تَعَالَى
Ushallî sunnatal istisqâ'i rak'ataini mustaqbilal qiblati ma'mumal lillâhi ta'âlâ
Artinya: "Aku niat melaksanakan shalat sunah Istisqa dua rakaat, menghadap kiblat sebagai imam karena Allah Ta'ala."
3. Setelah takbiratul ihram, imam dan ma'mum melakukan takbir 7x pada raka'at pertama dan takbir 5x pada raka'at kedua
4. Setelah takbiratul ihram, imam membaca surah al-Fatihah dan salah satu surah pendek secara jahar (jelas) yang dapat didengar oleh makmum. Setelah itu ruku, sujud dan duduk di antara dua sujud.
5. Pada rakaat kedua setelah sujud imam dan makmum melaksanakan duduk tahiyat akhir dan kemudian salam.
6. Imam menyampaikan khutbah dan didengarkan oleh jamaah.
7. Membaca doa memohon turunnya hujan
Menukil mui.or.id, salah satu bagian penting dalam rangkaian khutbah shalat Istisqa adalah memperbanyak doa. Adapun, di antara doa yang dapat dibaca untuk memohon hujan adalah sebagai berikut:
اللَّهُمَّ سُقْيَا رَحْمَةٍ وَلَا سُقْيَا عَذَابٍ وَلَا مَحْقٍ وَلَا بَلَاءٍ وَلَا هَدْمٍ. اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا هَنِيئًا مَرِيْئًا مَرِيْعًا غَدَقًا مُجَلِّلًا سَحًّا طَبَقًا دَائِمًا. اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِيْنَ. اللَّهُمَّ إِنَّ بِالْعِبَادِ وَالْبِلَادِ مِنَ الْجُهْدِ وَالْجُوْعِ وَالضَّنْكِ مَا لَا نَشْكُوْ إِلَّا إِلَيْكَ. اللَّهُمَّ أَنْبِتْ لَنَا الزَّرْعَ وَأَدِرَّ لَنَا الضَّرْعَ وَأَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ وَاكْشِفْ عَنَّا مِنَ الْبَلَاءِ مَا لَا يَكْشِفُهُ غَيْرُكَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَارًا
Allahumma suqya rahmatin wa la suqya ‘adzabin wa la mahqin wa la bala’in wa la hadmin. Allahumma asqina ghaitsan hani’an mari’an mari‘an ghadaqan mujallalan sahhan thabaqan da’iman. Allahumma asqinal ghaitsa wa la taj‘alna minal qanithin. Allahumma inna bil ‘ibadi wal biladi minal jahdi wal ju‘i wadh-dhanki ma la nasyku illa ilaika. Allahumma anbit lanaz-zar‘a wa adir lanadh-dhar‘a wa anzil ‘alaina min barakatis-sama’i wa anbit lana min barakatil ardhi, waksyif ‘anna minal bala’i ma la yaksyifuhu ghairuka. Allahumma inna nastaghfiruka innaka kunta ghaffaran, fa arsilis-sama’a ‘alaina midraran.
Artinya: “Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan sebagai rahmat, bukan hujan yang mendatangkan azab, kehancuran, bencana, ataupun kerusakan. Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang baik, menyegarkan, menyuburkan, lebat, merata, deras, melimpah, dan terus-menerus. Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan dan janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa. Ya Allah, sungguh para hamba dan negeri-negeri sedang mengalami kesulitan, kelaparan, dan kesempitan yang tidak kami adukan kecuali hanya kepada-Mu. Ya Allah, tumbuhkanlah tanaman bagi kami, limpahkanlah susu dari hewan ternak kami, turunkanlah kepada kami keberkahan dari langit, tumbuhkanlah untuk kami keberkahan dari bumi, dan singkirkanlah dari kami berbagai bencana yang tidak dapat disingkirkan oleh siapa pun selain Engkau. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon ampun kepada-Mu. Sungguh, Engkau Maha Pengampun. Maka turunkanlah kepada kami hujan dari langit dengan deras.” (*)

Komentar0