![]() |
| Tradisi Bulan Muharram di Indonesia (Ilustrasi by Microsoft Copilot) |
detikilmu.com - Memasuki bulan Muharram, berbagai daerah di Indonesia memiliki beragam tradisi unik untuk memeriahkan tahun baru Islam.
Tradisi ini hingga kini masih terus dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya yang berpadu dengan
nilai-nilai keagamaan.
Meski memiliki bentuk dan pelaksanaan yang berbeda, tradisi-tradisi
tersebut umumnya menjadi sarana untuk bersyukur, berdoa, mempererat
kebersamaan, sekaligus mengenang peristiwa penting dalam sejarah Islam.
Keberagaman budaya Nusantara membuat peringatan Muharram tidak
hanya diisi dengan kegiatan ibadah, tetapi juga berbagai ritual adat yang telah
diwariskan secara turun-temurun.
Sebagian tradisi bahkan telah menjadi daya tarik wisata budaya
karena menampilkan prosesi yang unik, melibatkan masyarakat luas, dan sarat
akan makna filosofis.
9 Tradisi Unik di Bulan Muharram di Berbagai Daerah di Indonesia
![]() |
| Ilustrasi Bubur Suro (Ilustrasi: Created by Microsoft Copilot) |
Berikut 9 tradisi di bulan Muharram yang masih lestari di berbagai daerah Indonesia, sebagaimana detikilmu.com rangkum dari berbagai sumber, Sabtu (27/06/26).
1. Tabuik (Sumatera Barat)
Tradisi Tabuik berasal dari Kota Pariaman, Sumatera Barat. Perayaan
ini dilakukan setiap tanggal 10 Muharram untuk mengenang wafatnya Husain bin
Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, dalam Perang Karbala.
Puncak acara ditandai dengan arak-arakan replika Tabuik berukuran
besar yang kemudian dilarung ke laut. Kini, Tabuik juga menjadi agenda budaya
dan pariwisata yang menarik ribuan pengunjung setiap tahunnya.
2. Bubur Suro (Jawa Tengah dan Yogyakarta)
Masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa
Yogyakarta memiliki tradisi memasak Bubur Suro pada malam atau tanggal 1
Muharram.
Bubur ini biasanya dibuat dengan berbagai bahan pelengkap yang
memiliki makna simbolis, kemudian dibagikan kepada tetangga atau jamaah sebagai
bentuk rasa syukur serta harapan memperoleh keberkahan di tahun baru Hijriah.
3. Kirab Malam Satu Suro (Surakarta)
Di Kota Surakarta, pergantian tahun Hijriah identik dengan Kirab
Malam Satu Suro yang diselenggarakan oleh Keraton Surakarta Hadiningrat.
Prosesi kirab berlangsung dengan suasana khidmat. Peserta berjalan
tanpa berbicara sambil mengelilingi kawasan keraton. Tradisi ini melambangkan
introspeksi diri dan doa agar kehidupan di tahun mendatang menjadi lebih baik.
4. Mubeng Benteng (Yogyakarta)
Selain Surakarta, masyarakat Yogyakarta juga mengenal tradisi
Mubeng Benteng.
Peserta berjalan kaki mengelilingi Benteng Keraton Yogyakarta pada
malam 1 Suro dalam keadaan hening atau "tapa bisu". Tradisi ini
dipercaya sebagai sarana perenungan diri, pengendalian hawa nafsu, serta
mendekatkan diri kepada Tuhan.
5. Nganggung (Kepulauan Bangka Belitung)
Tradisi Nganggung merupakan budaya masyarakat Bangka Belitung yang
dilakukan dalam berbagai perayaan keagamaan, termasuk bulan Muharram.
Setiap keluarga membawa dulang berisi makanan menuju masjid atau
balai desa untuk disantap bersama setelah doa bersama. Tradisi ini memperkuat
nilai gotong royong dan kebersamaan antarwarga.
6. Suroan (Jawa Timur)
Masyarakat Jawa Timur mengenal tradisi Suroan, yaitu kegiatan doa
bersama, pengajian, santunan anak yatim, hingga kenduri yang dilaksanakan
selama bulan Muharram.
Di sejumlah daerah, masyarakat juga mengadakan istighasah dan tahlil
sebagai bentuk permohonan keselamatan serta keberkahan memasuki tahun baru
Islam.
7. Sedekah Gunung (Lereng Merapi)
Sebagian masyarakat di lereng Gunung Merapi masih melaksanakan
tradisi Sedekah Gunung bertepatan dengan bulan Suro atau Muharram.
Warga membawa hasil bumi sebagai ungkapan rasa syukur atas rezeki
yang diperoleh sekaligus memanjatkan doa agar diberikan keselamatan dan hasil
panen yang melimpah.
8. Grebeg Suro (Ponorogo)
Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, memiliki tradisi Grebeg Suro yang
menjadi salah satu agenda budaya terbesar di daerah tersebut.
Rangkaian acaranya meliputi Festival Reog Nasional, kirab pusaka,
pameran UMKM, hingga kegiatan keagamaan. Perayaan ini berhasil memadukan unsur
budaya, ekonomi, dan religi dalam satu rangkaian kegiatan.
9. Doa Bersama dan Santunan Anak Yatim
Di berbagai daerah Indonesia, salah satu tradisi Muharram yang
masih banyak dilakukan adalah doa bersama dan pemberian santunan kepada anak
yatim.
Amalan ini didasarkan pada semangat berbagi dan memperkuat
kepedulian sosial. Banyak masjid, pesantren, hingga organisasi kemasyarakatan
mengadakan pengajian, zikir, dan santunan sebagai bagian dari peringatan bulan
Muharram.
Makna Tradisi Muharram bagi Masyarakat Indonesia
Tradisi-tradisi yang berkembang selama bulan Muharram mencerminkan
akulturasi antara ajaran Islam dan budaya lokal. Selama tidak bertentangan
dengan syariat, tradisi tersebut dapat menjadi sarana mempererat silaturahmi,
menanamkan nilai gotong royong, serta melestarikan warisan budaya yang telah
diwariskan dari generasi ke generasi.
Selain itu, bulan Muharram menjadi momentum bagi umat Islam untuk
meningkatkan ibadah, memperbanyak amal saleh, berpuasa sunah, memperbanyak
sedekah, serta melakukan introspeksi diri dalam menyambut tahun baru Hijriah.
Keberagaman tradisi unik bulan Muharram di berbagai daerah Indonesia menunjukkan kekayaan budaya Nusantara yang tetap hidup di tengah masyarakat.
Mulai dari Tabuik di Sumatera Barat, Bubur Suro di Jawa, hingga Grebeg Suro di Ponorogo, setiap tradisi memiliki sejarah, filosofi, dan nilai kebersamaan yang patut dijaga.
Dengan terus melestarikannya secara bijaksana
dan selaras dengan nilai-nilai Islam, tradisi-tradisi tersebut dapat menjadi
warisan budaya yang terus memberi manfaat bagi generasi mendatang. (*)


Komentar0