![]() |
| Ilustrasi Hafiz Hasan Al-Mas’udi (Created by AI) |
detikilmu.com - Di era pendidikan modern yang semakin kompetitif, kecerdasan intelektual sering kali menjadi fokus utama dalam proses belajar. Padahal karakter justru menjadi fondasi penting. Menariknya, nilai-nilai tersebut sebenarnya sudah lama dibahas dalam kitab klasik Taisīrul Khallāq karya Hafiz Hasan Al-Mas’udi. Kitab ini menjelaskan secara rinci adab peserta didik terhadap diri sendiri, guru, dan teman sebaya.
Meskipun ditulis dalam konteks masa lalu, isi
ajarannya tetap sangat relevan dengan tantangan pendidikan hari ini, terutama
dalam membentuk generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga berakhlak dan
berintegritas.
Dalam Kitab Taisīrul Khallāq, Hafiz Hasan
Al-Mas’udi membagi etika atau adab berkaitan dengan peserta didik menjadi 3
bagian penting, yakni adab yang berkaitan dengan dirinya sendiri, adab dengan
guru dan adab dengan teman-temannya. Berikut ini hasil penelitiannya
berdasarkan studi teks atas kitab tersebut. Dalam kitabnya beliau menuliskan
demikian:
لِلْمُتَعَلِّمِ آدَابٌ فِيْ نَفسِهِ وَاَدَابٌ مَعَ اُسْتَاذِهِ
وَاَدَابٌ مَعَ اِخْوَانِهِ.
“Bagi peserta didik itu ada etika untuk dirinya
sendiri, etika dengan gurunya dan dengan teman-temannya (Al Mas’udi, n.d.).”
Biografi Singkat Hafidz Hasan al-Mas’udi
Hafiz Hasan Al-Mas’udi adalah seorang ulama yang
dikenal melalui karyanya di bidang pendidikan akhlak, terutama kitab Taisīrul
Khallāq. Informasi tentang riwayat hidupnya tidak banyak tercatat secara rinci,
namun ia dikenal memiliki perhatian besar terhadap pembentukan adab dan
karakter peserta didik dalam proses menuntut ilmu.
Pemikirannya banyak digunakan dalam pendidikan
Islam tradisional, khususnya di pesantren, sebagai pedoman etika belajar yang
menekankan pentingnya akhlak selain kecerdasan intelektual.
Karya utamanya adalah Taisīrul Khallāq fī ‘Ilmi
al-Akhlāq, sebuah kitab ringkas yang membahas adab peserta didik terhadap diri
sendiri, guru, dan teman. Kitab ini masih dipelajari hingga kini karena isi
ajarannya yang sederhana dan relevan dengan pembentukan karakter pelajar.
Etika Peserta Didik menurut Al-Mas'udi dalam Kitab Taisīrul Khallāq
![]() |
| Gambar ilustrasi santri sedang belajar (Created by AI) |
Etika Peserta Didik Kepada Dirinya Sendiri
Dalam kitabnya, Hafiz Hasan al-Mas’udi menuliskan tentang etika atau akhlak peserta didik kepada dirinya sendiri.
اَمّا آدَابُهُ فِيْ نَفْسِهِ فَكَثِيرَةٌ، مِنْهَا تَرْكُ العُجْبِ،
وَمِنْهَا اَلتَّوَاضُعُ وَالصِّدْقُ لِيَكُونَ مَحْبُوْبًا مَوْثُوْقًا بِهِ،
وَمِنْهَا أَنْ يَكُونَ وَقُورًا فِي مِشْيَتِهِ، غَاضًّا طَرْفَهُ عَنِ النَّظَرِ
اِلَى الْمُحَرَّمَاتِ، وَأَنْ يَكُونَ أَمِيْنًا عَلَى مَا أُوتِيْهُ مِنَ
الْعِلْمِ، فَلَا يَجِيْبُ بِغَيْرِ مَا يَعْرِفُ.
“Adapun etika peserta didik kepada dirinya sendiri
itu sangat banyak, di antaranya ialah meninggalkan sifat ‘ujub (sombong). Dan
selain itu ialah bersikap tawadlu’ (rendah hati) dan jujur agar ia dicintai dan
dipercaya. Dan termasuk dari etika peserta didik ialah sopan saat berjalan,
menundukkan pandangannya dari hal-hal yang diharamkan oleh agama dan dapat
dipercaya dengan apa yang telah diberikan kepadanya yang berupa ilmu
(pengetahuan), sehingga ia tidak menjawab permasalahan dengan apa pun selain
apa yang telah diketahuinya (Al Mas’udi, n.d.).”
Etika Peserta Didik kepada Guru
وَأَمَّا آدَابُهُ مَعَ أُسْتَاذِهِ فَمِنْهَا أَنْ يَعْتَقِدَ أَنَّ
فَضْلَهُ أَكْبَرُ مِنْ فَضْلِ وَالِدَيْهِ عَلَيْهِ، لِأَنَّهُ يُرَبِّي
رُوْحَهُ. وَمِنْهَا الخُضُوْعُ أَمَامَهُ، وَالجُلُوْسُ فِي دَرْسِهِ بِالأَدَبِ،
وَحُسْنُ الإِصْغَاءِ إِلَى مَا يَقُولُهُ، وَمِنْهَا تَرْكُ المِزَاحِ، وَأَلَّا
يَمْدَحَ غَيْرَهُ مِنَ العُلَمَاءِ بِحَضْرَتِهِ مَخَافَةَ أَنْ يَفْهَمَ
أُسْتَاذُهُ أَنَّهُ يَذُمُّهُ، وَمِنْهَا: اَلاَّ يَصُدَّهُ الْحَيَاءُ عَنِ
السُّؤَالِ عَمَّا لَا يَعْرِفُ.
“Adapun etika peserta didik terhadap gurunya, salah
satunya adalah ia harus percaya bahwa keutamaan gurunya lebih besar daripada
keutamaan orang tuanya, karena gurunya sedang mendidik jiwanya. Di antara etika
tersebut adalah menunjukkan kerendahan hati di hadapan gurunya, duduk dengan
hormat di kelasnya dan menyimak dengan seksama apa yang dikatakan gurunya. Di
antara etika tersebut juga adalah menahan diri dari bercanda dan tidak memuji
guru lain di hadapan gurunya, agar gurunya tidak mengira bahwa ia sedang
mengkritiknya. Dan di antara etika tersebut adalah tidak membiarkan rasa malu
menghalangi dirinya untuk bertanya tentang apa yang tidak ia ketahui (Al
Mas’udi, n.d.).”
Etika Peserta Didik kepada Temannya
وَاَمَّا آدَابُهُ مَعَ إِخْوَانِهِ فَمِنْهَا: اِحْتِرَامُهُمْ
وَتَرْكُ اِحْتِقَارِ وَاحِدٍ مِنْهُمْ وَتَرْكُ الْاِسْتِحْلاَءِ عَلَيْهِمْ
وَمِنْهَا اَلاَّ يَسْخَرَ بِبَطِىءِ الْفَهْمِ مِنْهُمْ وَاَلاَّ يَفْرَحَ اِذَا
وَبَّخَ الْاُسْتَاذُ بَعْضَ الْقَاصِرِيْنَ فَاِنَّ ذَالِكَ اَسْبَابُ الْبَعْضِ
وَالْعَدَاوَةِ.
"Adapun etikanya terhadap teman-temannya, meliputi:
menghormati mereka, tidak meremehkan seorang pun di antara mereka, tidak
bersikap merendahkan terhadap mereka, tidak mengejek mereka yang lambat mengerti,
dan tidak bergembira ketika guru menegur sebagian dari mereka yang belum
dewasa, karena itu akan menimbulkan kebencian dan permusuhan,"(Al Mas’udi,
n.d.).
Relevansi dengan Konsep Pendidikan Modern
![]() |
| Ilustrasi peserda didik (Created by AI) |
Sikap meninggalkan ‘ujub (sombong), bersikap tawadhu’ (rendah hati), serta jujur mencerminkan pentingnya integrity dan growth mindset dalam pendidikan masa kini.
Dalam sistem pendidikan modern, peserta didik
dituntut tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki kesadaran diri, tidak
overconfidence, serta mampu mengakui keterbatasan pengetahuan sebagai bagian
dari proses belajar.
Larangan untuk menjawab sesuatu di luar pengetahuan
yang dimiliki juga sangat relevan dengan prinsip critical thinking dan literasi
informasi. Di era digital saat ini, peserta didik dituntut untuk tidak
menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Hal ini sejalan dengan pesan kitab bahwa ilmu harus
disampaikan secara bertanggung jawab dan berdasarkan pengetahuan yang benar.
Selain itu, etika menjaga pandangan dan perilaku menunjukkan pentingnya
pengendalian diri (self-regulation) yang menjadi salah satu kompetensi utama
dalam pendidikan abad ke-21.
Jika dilihat dari aspek hubungan dengan guru,
ajaran dalam kitab ini juga sejalan dengan konsep respectful learning
environment. Sikap hormat, mendengarkan dengan baik, serta keberanian untuk
bertanya mencerminkan pola interaksi edukatif yang ideal dalam kelas modern.
Guru diposisikan sebagai fasilitator pembelajaran,
dan peserta didik diharapkan aktif namun tetap menjaga adab. Hal ini memperkuat
prinsip student-centered learning yang tetap berlandaskan etika komunikasi yang
baik antara guru dan siswa.
Sementara itu, etika terhadap teman sebaya sangat relevan dengan konsep collaborative learning dan pendidikan inklusif. Sikap saling menghormati, tidak merendahkan, serta menghindari ejekan terhadap teman yang lambat memahami merupakan fondasi penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman secara psikologis (psychological safety).
Dalam pendidikan modern, lingkungan seperti ini terbukti meningkatkan partisipasi, kepercayaan diri, dan prestasi belajar siswa. Secara keseluruhan, nilai-nilai dalam Taisīrul Khallāq menunjukkan bahwa prinsip pendidikan karakter bukanlah konsep baru, melainkan telah lama menjadi bagian dari tradisi keilmuan Islam.
Relevansinya dengan pendidikan modern menegaskan bahwa kemajuan teknologi dan metode belajar seharusnya tetap diiringi dengan penguatan akhlak dan etika agar pendidikan benar-benar menghasilkan manusia yang berilmu sekaligus berkarakter. (*)
.png)
.png)
.png)
Komentar0