TpY8Tfd7TUzpTSzpBSz6BUO5Td==

Fakta atau Mitos, Bulan Suro Identik dengan Mistik dan Kesialan? Berikut Pandangan Islam

Ilustrasi malam 1 Suro (Created by AI)

Setiap memasuki malam 1 Suro, berbagai cerita dan kepercayaan kembali beredar di tengah masyarakat, khususnya masyarakat Jawa. Ada yang meyakini malam tersebut penuh mistik.

Ada pula yang beranggapan, di bulan ini waktu munculnya makhluk gaib, atau bahkan dianggap membawa kesialan.


Oleh sebab itu, sebagian orang menghindari bepergian, mengadakan pesta, membangun rumah atau melakukan aktivitas tertentu.

 

Namun, benarkah Islam mengajarkan demikian? Berikut penjelasannya sebagaimana detikilmu.com rangkum dari berbagai sumber, Rabu (17/06/26).

 

Apa Itu Malam 1 Suro?

 

Dalam tradisi Jawa, 1 Suro merupakan hari pertama dalam penanggalan Jawa yang bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah. Bulan Muharram sendiri adalah salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Allah SWT berfirman:

 

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

 

"Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram (suci)." (QS. At-Taubah: 36)

 

Para ulama menjelaskan bahwa empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

 

Dengan demikian, yang dikenal sebagai malam 1 Suro pada hakikatnya bertepatan dengan awal bulan Muharram, bulan yang memiliki keutamaan dalam Islam.

 

Asal-Usul Anggapan Malam 1 Suro Angker

 

Kepercayaan tentang keangkeran malam 1 Suro lebih banyak berasal dari tradisi budaya dan cerita turun-temurun yang berkembang di berbagai daerah, khususnya di Jawa.

 

Sebagian masyarakat mengaitkannya dengan dunia mistis, ritual tertentu, atau waktu yang dianggap memiliki kekuatan supranatural.

 

Sebagai bagian dari warisan budaya, tradisi tersebut memiliki nilai historis dan sosial. Namun dari sudut pandang akidah Islam, keyakinan bahwa suatu malam secara otomatis membawa kesialan atau keberuntungan memerlukan dasar yang jelas dari Al-Qur'an dan Sunnah.

 
Islam Menolak Anggapan Hari atau Bulan Membawa Kesialan

 

Salah satu prinsip penting dalam Islam adalah larangan tathayyur, yaitu meyakini pertanda buruk atau kesialan yang berasal dari waktu, tempat, benda, atau kejadian tertentu tanpa dasar syariat.

Rasulullah SAW bersabda:


لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ وَفِرَّ مِنْ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنْ الْأَسَدِ


"Tidak ada penularan (yang terjadi dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak ada kesialan karena burung (thiyarah), tidak ada burung hantu pembawa sial, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar." (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Hadis ini menunjukkan bahwa Islam menghapus keyakinan jahiliah yang menganggap waktu tertentu membawa nasib buruk.

 

Karena itu, tidak ada dalil yang sahih yang menyatakan bahwa malam 1 Suro atau 1 Muharram adalah malam pembawa kesialan.

 

Keistimewaan Bulan Muharram


Meskipun Islam tidak mengajarkan bahwa malam 1 Suro itu angker, Islam memang memuliakan bulan Muharram.

Rasulullah SAW bersabda:

 

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

 

"Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Muharram. Dan salat yang paling utama setelah salat fardu adalah salat malam." (HR. Muslim)

 

Selain itu, pada tanggal 10 Muharram terdapat hari Asyura yang dianjurkan untuk berpuasa karena memiliki keutamaan besar.

 

Dengan demikian, fokus ajaran Islam pada bulan Muharram adalah memperbanyak ibadah, bukan mempercayai mitos-mitos kesialan.

 

Mengisi dengan Amal Sholeh

 

Anggapan bahwa malam 1 Suro penuh misteri, makhluk gaib, atau membawa kesialan tidak memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam. Islam tidak mengajarkan bahwa suatu malam tertentu secara otomatis mendatangkan nasib buruk bagi manusia.

 

Sebaliknya, 1 Suro yang bertepatan dengan 1 Muharram merupakan awal tahun Hijriah dan bagian dari bulan yang dimuliakan Allah. Oleh karena itu, seorang Muslim dianjurkan mengisinya dengan ibadah, muhasabah, dan memperkuat keimanan, bukan dengan rasa takut terhadap mitos yang tidak memiliki landasan syariat.

 

Malam 1 Suro boleh dipandang sebagai bagian dari tradisi budaya yang hidup di masyarakat, tetapi keyakinan seorang Muslim tetap harus berpijak pada Al-Qur'an dan Sunnah, bukan pada anggapan bahwa waktu tertentu membawa kesialan atau keberuntungan dengan sendirinya. (*)

 


Komentar0

Type above and press Enter to search.