![]() |
| Tongkat Nabi Musa berubah menjadi ular (Ilustrasi by AI Gemini) |
Anugerah luar biasa ini berkaitan dengan beratnya
misi dakwah yang beliau emban, yakni menghadapi Fir'aun, penguasa zalim yang
bahkan mengaku dirinya sebagai tuhan.
Dalam perjuangannya, Allah membekali Nabi Musa
dengan berbagai tanda kebesaran agar menjadi bukti nyata atas kerasulannya.
Salah satu mukjizat yang paling dikenal adalah
tongkat beliau yang dapat berubah menjadi seekor ular.
Menariknya, ketika mengisahkan mukjizat tersebut,
Al-Qur'an tidak hanya menggunakan satu istilah untuk menyebut ular. Ada tiga
kata berbeda yang dipakai, yakni tsu'ban, hayyah, dan jaan.
Mengapa demikian? Apakah ketiga kata itu memiliki
makna yang sama, atau justru menggambarkan karakter ular yang berbeda?
Sembilan Mukjizat Nabi Musa AS
Allah SWT menjelaskan bahwa Nabi Musa dianugerahi
sembilan mukjizat yang nyata sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Isra ayat
101:
وَلَقَدْ اٰتَيْنَا مُوْسٰى تِسْعَ
اٰيٰتٍۢ بَيِّنٰتٍ
"Sungguh, Kami telah menganugerahkan kepada
Musa sembilan mukjizat yang nyata." (QS. Al-Isra: 101)
Menurut Tafsir As-Sa'di karya Syaikh Abdurrahman
bin Nashir As-Sa'di, sembilan mukjizat tersebut meliputi berubahnya tongkat
menjadi ular, tangan yang bercahaya, angin topan, belalang, kutu, katak, darah,
berbagai azab yang menimpa Fir'aun beserta kaumnya, hingga terbelahnya Laut
Merah.
Di antara seluruh mukjizat tersebut, perubahan
tongkat menjadi ular merupakan salah satu kisah yang paling sering diceritakan
karena menjadi bukti nyata yang diperlihatkan langsung kepada Fir'aun dan para
penyihir Mesir.
Ayat-Ayat Al-Qur'an yang Menceritakan Tongkat
Nabi Musa Menjadi Ular
Peristiwa berubahnya tongkat Nabi Musa menjadi ular
disebutkan dalam beberapa surah Al-Qur'an.
1. Surah Al-Qashash Ayat 31
Allah SWT berfirman:
وَاَنْ اَلْقِ عَصَاكَ ۗفَلَمَّا
رَاٰهَا تَهْتَزُّ كَاَنَّهَا جَاۤنٌّ...
"Dan lemparkanlah tongkatmu." Maka ketika
Musa melihat tongkat itu bergerak seperti seekor ular yang gesit, ia berbalik
melarikan diri tanpa menoleh. Allah berfirman, "Wahai Musa! Kemarilah dan
jangan takut. Sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang aman."
Pada ayat ini digunakan kata jaan.
2. Surah An-Naml Ayat 10
Allah SWT berfirman:
"Dan lemparkanlah tongkatmu". Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seperti dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. "Hai Musa, janganlah kamu takut. Sesungguhnya orang yang dijadikan rasul, tidak takut di hadapan-Ku.
Ayat ini mengisahkan peristiwa yang sama, yaitu
ketika tongkat Nabi Musa bergerak seperti jaan, yakni ular yang lincah dan
gesit sehingga membuat beliau terkejut dan berlari.
3. Surah Thaha Ayat 19–20
Allah SWT berfirman:
فَاَلۡقِهَا يٰمُوۡسٰى فَاَلۡقٰٮهَا
فَاِذَا هِىَ حَيَّةٌ تَسۡعٰى
"Lemparkanlah tongkat itu, wahai Musa."
Lalu Musa melemparkannya, maka seketika tongkat itu menjadi seekor ular yang
merayap dengan cepat.
Dalam ayat ini digunakan kata hayyah.
4. Surah Al-A'raf Ayat 107
Allah SWT berfirman:
فَاَلْقٰى عَصَاهُ فَاِذَا هِيَ
ثُعْبَانٌ مُّبِيْنٌ
"Lalu Musa melemparkan tongkatnya, maka
seketika tongkat itu menjadi seekor ular besar yang nyata."
Di sinilah Al-Qur'an memakai istilah tsu'ban.
Mengapa Al-Qur'an Menggunakan Tiga Kata Berbeda?
Inilah bagian yang paling menarik. Ketiga istilah
tersebut ternyata memiliki nuansa makna yang berbeda.
1. Tsu'ban: Ular Besar yang Sangat Menakutkan
Kata tsu'ban berasal dari makna sesuatu yang
mengalir deras dan berkelok-kelok. Karena gerakannya menyerupai ular, kata ini
kemudian digunakan untuk menggambarkan ular yang berukuran besar, bergerak
cepat, dan tampak sangat mengerikan.
Itulah sebabnya ketika Nabi Musa berhadapan dengan
Fir'aun, Al-Qur'an memakai istilah tsu'ban, untuk menunjukkan kedahsyatan
mukjizat yang disaksikan banyak orang.
2. Hayyah: Ular yang Hidup dan Aktif
Kata hayyah berasal dari akar kata yang sama dengan
al-hayah (kehidupan). Kata ini menggambarkan makhluk hidup yang aktif, lincah,
penuh gerakan, dan memiliki respons.
Penggunaan istilah ini menekankan bahwa tongkat
Nabi Musa benar-benar berubah menjadi makhluk hidup, bukan sekadar ilusi atau
tipuan mata.
3. Jaan: Ular Kecil yang Gesit
Adapun jaan biasanya dipahami sebagai ular yang
ramping, kecil, dan bergerak sangat cepat. Karena itu, dalam Surah Al-Qashash
dan An-Naml, Al-Qur'an menggambarkan tongkat Nabi Musa dengan istilah jaan
ketika fokus ayat sedang menggambarkan kelincahan gerak ular tersebut hingga
membuat Nabi Musa terkejut.
Mengapa Penafsir Berbeda Pendapat?
Para ulama tafsir memiliki beberapa penjelasan
mengenai penggunaan tiga istilah tersebut.
Pendapat pertama menyatakan bahwa tongkat Nabi Musa
mengalami perubahan bentuk secara bertahap, mulai dari ular kecil yang lincah,
kemudian berkembang menjadi ular besar yang sangat menakutkan.
Pendapat kedua menjelaskan bahwa ular itu
sebenarnya tetap satu, tetapi Al-Qur'an menggambarkannya dari sisi yang
berbeda. Kadang yang ditonjolkan adalah kelincahannya, pada kesempatan lain
ukuran dan kedahsyatannya.
Sementara pendapat ketiga menyebutkan bahwa
mukjizat tersebut terjadi di tempat dan waktu yang berbeda. Ketika Nabi Musa
pertama kali menerima wahyu di Bukit Thur, tongkat digambarkan seperti jaan
atau hayyah.
Sedangkan ketika diperlihatkan di hadapan Fir'aun
dan para penyihir, Al-Qur'an menggunakan istilah tsu'ban karena situasinya
menuntut gambaran ular yang besar dan menggentarkan.
Hikmah di Balik Perbedaan Kata
Perbedaan penyebutan ular dalam kisah Nabi Musa
bukanlah pertentangan, melainkan menunjukkan keindahan bahasa Al-Qur'an.
Setiap kata dipilih sesuai konteks cerita yang
sedang disampaikan. Ada kalanya Al-Qur'an ingin menonjolkan kelincahan gerakan
ular, ada saatnya menegaskan bahwa ular itu benar-benar hidup, dan pada
kesempatan lain menampilkan ukurannya yang besar untuk menunjukkan kedahsyatan
mukjizat di hadapan Fir'aun.
Justru variasi diksi ini menjadi salah satu bukti
keindahan balaghah Al-Qur'an, di mana setiap kata memiliki fungsi dan makna
yang sangat tepat sesuai konteks.
Penutup
Mukjizat tongkat Nabi Musa AS bukan sekadar kisah
tentang tongkat yang berubah menjadi ular. Di baliknya terdapat pelajaran
tentang kekuatan bahasa Al-Qur'an yang memilih setiap kata dengan sangat
cermat.
Penggunaan istilah tsu'ban, hayyah, dan jaan
menunjukkan bahwa Al-Qur'an tidak memakai kata secara sembarangan.
Masing-masing memiliki nuansa makna yang saling
melengkapi sehingga menghadirkan gambaran mukjizat Nabi Musa secara lebih utuh
dan mendalam.
Bagi orang yang mencermati bahasa Al-Qur'an,
perbedaan ini justru menjadi salah satu bukti keindahan susunan ayat-ayat-Nya
sekaligus memperkaya pemahaman terhadap kisah para nabi. (*)

Komentar0