TpY8Tfd7TUzpTSzpBSz6BUO5Td==

Al-Qur'an Sebut 3 Nama Berbeda untuk Ular Nabi Musa, Ternyata Ini Rahasia yang Jarang Diketahui

 

Tongkat Nabi Musa berubah menjadi ular (Ilustrasi by AI Gemini)

Nabi Musa AS merupakan salah satu nabi yang dikaruniai begitu banyak mukjizat oleh Allah SWT.

 

Anugerah luar biasa ini berkaitan dengan beratnya misi dakwah yang beliau emban, yakni menghadapi Fir'aun, penguasa zalim yang bahkan mengaku dirinya sebagai tuhan.

 

Dalam perjuangannya, Allah membekali Nabi Musa dengan berbagai tanda kebesaran agar menjadi bukti nyata atas kerasulannya.

 

Salah satu mukjizat yang paling dikenal adalah tongkat beliau yang dapat berubah menjadi seekor ular.

 

Menariknya, ketika mengisahkan mukjizat tersebut, Al-Qur'an tidak hanya menggunakan satu istilah untuk menyebut ular. Ada tiga kata berbeda yang dipakai, yakni tsu'ban, hayyah, dan jaan.

 

Mengapa demikian? Apakah ketiga kata itu memiliki makna yang sama, atau justru menggambarkan karakter ular yang berbeda?

 

Sembilan Mukjizat Nabi Musa AS

 

Allah SWT menjelaskan bahwa Nabi Musa dianugerahi sembilan mukjizat yang nyata sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Isra ayat 101:

 

وَلَقَدْ اٰتَيْنَا مُوْسٰى تِسْعَ اٰيٰتٍۢ بَيِّنٰتٍ

 

"Sungguh, Kami telah menganugerahkan kepada Musa sembilan mukjizat yang nyata." (QS. Al-Isra: 101)

 

Menurut Tafsir As-Sa'di karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di, sembilan mukjizat tersebut meliputi berubahnya tongkat menjadi ular, tangan yang bercahaya, angin topan, belalang, kutu, katak, darah, berbagai azab yang menimpa Fir'aun beserta kaumnya, hingga terbelahnya Laut Merah.

 

Di antara seluruh mukjizat tersebut, perubahan tongkat menjadi ular merupakan salah satu kisah yang paling sering diceritakan karena menjadi bukti nyata yang diperlihatkan langsung kepada Fir'aun dan para penyihir Mesir.

 
Ayat-Ayat Al-Qur'an yang Menceritakan Tongkat Nabi Musa Menjadi Ular

 

Peristiwa berubahnya tongkat Nabi Musa menjadi ular disebutkan dalam beberapa surah Al-Qur'an.

 

1. Surah Al-Qashash Ayat 31

 

Allah SWT berfirman:

 

وَاَنْ اَلْقِ عَصَاكَ ۗفَلَمَّا رَاٰهَا تَهْتَزُّ كَاَنَّهَا جَاۤنٌّ...

 

"Dan lemparkanlah tongkatmu." Maka ketika Musa melihat tongkat itu bergerak seperti seekor ular yang gesit, ia berbalik melarikan diri tanpa menoleh. Allah berfirman, "Wahai Musa! Kemarilah dan jangan takut. Sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang aman."

 

Pada ayat ini digunakan kata jaan.

 

2. Surah An-Naml Ayat 10


Allah SWT berfirman:


 وَأَلْقِ عَصَاكَ ۚ فَلَمَّا رَءَاهَا تَهْتَزُّ كَأَنَّهَا جَآنٌّ وَلَّىٰ مُدْبِرًا وَلَمْ يُعَقِّبْ ۚ يَٰمُوسَىٰ لَا تَخَفْ إِنِّى لَا يَخَافُ لَدَىَّ ٱلْمُرْسَلُونَ


"Dan lemparkanlah tongkatmu". Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seperti dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. "Hai Musa, janganlah kamu takut. Sesungguhnya orang yang dijadikan rasul, tidak takut di hadapan-Ku.



Ayat ini mengisahkan peristiwa yang sama, yaitu ketika tongkat Nabi Musa bergerak seperti jaan, yakni ular yang lincah dan gesit sehingga membuat beliau terkejut dan berlari.

 

3. Surah Thaha Ayat 19–20

 

Allah SWT berfirman:

 

فَاَلۡقِهَا يٰمُوۡسٰى فَاَلۡقٰٮهَا فَاِذَا هِىَ حَيَّةٌ تَسۡعٰى

 

"Lemparkanlah tongkat itu, wahai Musa." Lalu Musa melemparkannya, maka seketika tongkat itu menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat.

 

Dalam ayat ini digunakan kata hayyah.

 

4. Surah Al-A'raf Ayat 107

 

Allah SWT berfirman:

 

فَاَلْقٰى عَصَاهُ فَاِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُّبِيْنٌ

 

"Lalu Musa melemparkan tongkatnya, maka seketika tongkat itu menjadi seekor ular besar yang nyata."

 

Di sinilah Al-Qur'an memakai istilah tsu'ban.

 

Mengapa Al-Qur'an Menggunakan Tiga Kata Berbeda?

 

Inilah bagian yang paling menarik. Ketiga istilah tersebut ternyata memiliki nuansa makna yang berbeda.

 

1. Tsu'ban: Ular Besar yang Sangat Menakutkan

 

Kata tsu'ban berasal dari makna sesuatu yang mengalir deras dan berkelok-kelok. Karena gerakannya menyerupai ular, kata ini kemudian digunakan untuk menggambarkan ular yang berukuran besar, bergerak cepat, dan tampak sangat mengerikan.

 

Itulah sebabnya ketika Nabi Musa berhadapan dengan Fir'aun, Al-Qur'an memakai istilah tsu'ban, untuk menunjukkan kedahsyatan mukjizat yang disaksikan banyak orang.

 

2. Hayyah: Ular yang Hidup dan Aktif

 

Kata hayyah berasal dari akar kata yang sama dengan al-hayah (kehidupan). Kata ini menggambarkan makhluk hidup yang aktif, lincah, penuh gerakan, dan memiliki respons.

 

Penggunaan istilah ini menekankan bahwa tongkat Nabi Musa benar-benar berubah menjadi makhluk hidup, bukan sekadar ilusi atau tipuan mata.

 

3. Jaan: Ular Kecil yang Gesit

 

Adapun jaan biasanya dipahami sebagai ular yang ramping, kecil, dan bergerak sangat cepat. Karena itu, dalam Surah Al-Qashash dan An-Naml, Al-Qur'an menggambarkan tongkat Nabi Musa dengan istilah jaan ketika fokus ayat sedang menggambarkan kelincahan gerak ular tersebut hingga membuat Nabi Musa terkejut.

 

Mengapa Penafsir Berbeda Pendapat?

 

Para ulama tafsir memiliki beberapa penjelasan mengenai penggunaan tiga istilah tersebut.

 

Pendapat pertama menyatakan bahwa tongkat Nabi Musa mengalami perubahan bentuk secara bertahap, mulai dari ular kecil yang lincah, kemudian berkembang menjadi ular besar yang sangat menakutkan.

 

Pendapat kedua menjelaskan bahwa ular itu sebenarnya tetap satu, tetapi Al-Qur'an menggambarkannya dari sisi yang berbeda. Kadang yang ditonjolkan adalah kelincahannya, pada kesempatan lain ukuran dan kedahsyatannya.

 

Sementara pendapat ketiga menyebutkan bahwa mukjizat tersebut terjadi di tempat dan waktu yang berbeda. Ketika Nabi Musa pertama kali menerima wahyu di Bukit Thur, tongkat digambarkan seperti jaan atau hayyah.

 

Sedangkan ketika diperlihatkan di hadapan Fir'aun dan para penyihir, Al-Qur'an menggunakan istilah tsu'ban karena situasinya menuntut gambaran ular yang besar dan menggentarkan.

 

Hikmah di Balik Perbedaan Kata

 

Perbedaan penyebutan ular dalam kisah Nabi Musa bukanlah pertentangan, melainkan menunjukkan keindahan bahasa Al-Qur'an.

 

Setiap kata dipilih sesuai konteks cerita yang sedang disampaikan. Ada kalanya Al-Qur'an ingin menonjolkan kelincahan gerakan ular, ada saatnya menegaskan bahwa ular itu benar-benar hidup, dan pada kesempatan lain menampilkan ukurannya yang besar untuk menunjukkan kedahsyatan mukjizat di hadapan Fir'aun.

 

Justru variasi diksi ini menjadi salah satu bukti keindahan balaghah Al-Qur'an, di mana setiap kata memiliki fungsi dan makna yang sangat tepat sesuai konteks.

 

Penutup

 

Mukjizat tongkat Nabi Musa AS bukan sekadar kisah tentang tongkat yang berubah menjadi ular. Di baliknya terdapat pelajaran tentang kekuatan bahasa Al-Qur'an yang memilih setiap kata dengan sangat cermat.

 

Penggunaan istilah tsu'ban, hayyah, dan jaan menunjukkan bahwa Al-Qur'an tidak memakai kata secara sembarangan.

 

Masing-masing memiliki nuansa makna yang saling melengkapi sehingga menghadirkan gambaran mukjizat Nabi Musa secara lebih utuh dan mendalam.

 

Bagi orang yang mencermati bahasa Al-Qur'an, perbedaan ini justru menjadi salah satu bukti keindahan susunan ayat-ayat-Nya sekaligus memperkaya pemahaman terhadap kisah para nabi. (*)

 

Komentar0

Type above and press Enter to search.