![]() |
| Dzun al-Misri mendapatkan hidangan gratis selama 30 Tahun (Ilustrasi by AI Gemini) |
Selain masyhur karena kezuhudan dan keluasan
ilmunya dalam bidang tasawuf, beliau juga dikenang karena berbagai karomah yang
dinisbahkan kepadanya.
Salah satu kisah yang paling terkenal adalah
tentang rezeki yang datang setiap hari tanpa henti selama 30 tahun.
Kisah tersebut tidak hanya menunjukkan kemuliaan
seorang wali Allah, tetapi juga mengandung pelajaran tentang kasih sayang
kepada sesama makhluk dan pentingnya bertawakal kepada Allah SWT.
Sekilas Tentang Dzunnun al-Misri
Dzunnun al-Misri lahir di Ikhmim, sebuah wilayah di
Mesir Hulu, sekitar tahun 180 H atau 796 M. Beliau wafat pada tahun 246 H (856
M) dan dimakamkan di kawasan yang berdekatan dengan makam sahabat Nabi, Amr bin
Ash dan Uqbah bin al-Harits.
Para sejarawan berbeda pendapat mengenai nama asli
beliau. Sebagian menyebutnya Abu al-Faidz Tsauban bin Ibrahim, sementara
riwayat lain menyebut beliau bernama Dzunnun bin Ibrahim al-Ikhmimi.
Dalam dunia tasawuf, Dzunnun al-Misri termasuk
tokoh penting yang berperan dalam perkembangan tasawuf falsafi.
Pemikiran-pemikirannya banyak memengaruhi generasi sufi setelahnya.
Nasihat Sang Putri yang Mengubah Kebiasaan Ayahnya
Dikisahkan, Dzunnun al-Misri memiliki kebiasaan
memancing ikan, terutama menjelang waktu berbuka puasa di bulan Ramadan. Ikan
hasil tangkapannya kemudian dimasak sebagai hidangan berbuka.
Pada suatu sore, beliau mengajak putrinya ikut
memancing di tepi sungai. Saat keduanya menunggu kail, sang putri menyampaikan
sebuah nasihat yang sederhana tetapi menyentuh hati.
Ia berkata bahwa ikan-ikan yang hidup di sungai
juga merupakan makhluk Allah yang senantiasa bertasbih kepada-Nya. Menurutnya,
apabila ikan itu ditangkap lalu dimakan, maka tasbih yang mereka lantunkan akan
terhenti.
Ucapan polos itu membuat Dzunnun al-Misri merenung.
Beliau menerima nasihat putrinya dengan lapang dada. Hari itu mereka pulang
tanpa membawa seekor ikan pun.
Sejak saat itu, Dzunnun al-Misri memilih
meninggalkan kebiasaannya memancing. Beliau lebih mengandalkan ikhtiar yang
tidak mengganggu makhluk lain dan menyerahkan sepenuhnya urusan rezeki kepada
Allah SWT.
Karomah Rezeki Selama 30 Tahun
Menurut kisah yang beredar dalam berbagai literatur
tasawuf, keputusan tersebut menjadi awal datangnya karunia Allah yang luar
biasa.
Setiap menjelang waktu Maghrib, datang utusan
membawa makanan yang sangat lezat untuk Dzunnun al-Misri dan putrinya. Makanan
itu disebut sebagai hidangan yang berasal dari Sang Raja, yakni Allah SWT.
Peristiwa tersebut terjadi secara terus-menerus
setiap hari selama tiga puluh tahun. Keduanya tidak lagi merasa khawatir
mengenai makanan berbuka karena Allah telah mencukupi kebutuhan mereka melalui
cara yang tidak biasa.
Karomah Itu Berakhir Setelah Sang Putri Wafat
Setelah tiga dekade berlalu, putri Dzunnun al-Misri
meninggal dunia. Sejak saat itulah kiriman makanan yang selama ini datang
setiap hari berhenti.
Peristiwa tersebut membuat Dzunnun al-Misri
memahami bahwa karunia luar biasa itu berkaitan erat dengan ketulusan,
keikhlasan, dan kemuliaan hati putrinya yang mengingatkan sang ayah agar tidak
menyakiti makhluk Allah tanpa kebutuhan yang mendesak.
Kisah ini terdapat dalam sejumlah kitab yang membahas karamah para wali, di antaranya Jami' Karamatil Auliya' dan Thabaqatul Kubra karya Imam Asy-Sya'rani.
Meski demikian, kisah ini lebih dikenal sebagai
riwayat dalam literatur tasawuf yang bertujuan menghadirkan pelajaran moral dan
spiritual. Karena itu, umat Islam dapat mengambil hikmah yang terkandung di
dalamnya tanpa harus menjadikannya sebagai landasan hukum syariat.
Hikmah yang Dapat Dipetik
Kisah Dzunnun al-Misri mengajarkan bahwa kelembutan
hati terhadap makhluk Allah dapat menjadi sebab datangnya keberkahan. Nasihat
yang disampaikan oleh putrinya menunjukkan bahwa kebijaksanaan tidak selalu
datang dari orang yang lebih tua, tetapi juga bisa lahir dari hati yang bersih.
Selain itu, cerita ini mengingatkan bahwa Allah
memiliki banyak cara untuk mencukupi rezeki hamba-Nya. Ketika seseorang
berusaha, bertawakal, dan menjaga adab terhadap sesama makhluk, Allah mampu
menghadirkan pertolongan dari jalan yang tidak pernah disangka-sangka,
sebagaimana firman-Nya:
"Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya
Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang
tidak disangka-sangkanya." (QS. At-Talaq: 2–3). (*)

Komentar0