![]() |
| Maulid Nabi Muhammad SAW diperingari setiap tahunnya oleh umat Islam (Ilustrasi by Gemini) |
Maulid
Nabi Muhammad SAW diperingati setiap tahunnya oleh sebagian besar umat Islam di
dunia. Maulid Nabi 2026 kali ini menjadi momen penting untuk mengenang sosok
Rasulullah SAW dan perjalanan hidup beliau.
Namun,
ada satu hal menarik tentang hari kelahiran Rasulullah SAW. Ternyata, beliau
pernah memberikan contoh khusus dalam menyikapi hari tersebut.
Hal
ini diketahui dari sebuah hadis ketika Rasulullah SAW ditanya tentang salah
satu hari dalam sepekan. Jawaban beliau kemudian menjadi perhatian para ulama
hingga sekarang.
Lantas,
apa yang dilakukan Rasulullah SAW pada hari kelahirannya? Benarkah ada amalan
tertentu yang beliau contohkan untuk menyikapi hari tersebut?
Cara Rasulullah
Memperingati Hari Kelahirannya
Rasulullah
SAW memperingati hari kelahirannya dengan cara berpuasa pada hari Senin. Hal
ini didasarkan pada keterangan beliau ketika ditanya mengenai keutamaan puasa
pada hari tersebut. Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ
أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الِاثْنَيْنِ فَقَالَ فِيهِ
وُلِدْتُ وَفِيهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ
“Dari
Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang
puasa hari Senin. Beliau menjawab, ‘Pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari
itu pula wahyu diturunkan kepadaku.’” (HR. Muslim).
Hadis
tersebut menunjukkan bahwa kelahiran Rasulullah SAW merupakan salah satu nikmat
yang beliau syukuri dengan melaksanakan ibadah puasa. Atas dasar itu,
memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW dapat dilakukan dengan berpuasa
sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Allah SWT.
Prinsip
yang sama juga dapat menjadi dasar kebolehan berpuasa pada hari kelahiran
seseorang, dengan niat mensyukuri nikmat Allah SWT atas kelahirannya ke dunia.
Sebab, kelahiran merupakan salah satu bentuk nikmat dan karunia Allah SWT
kepada manusia.
Pendapat
tersebut sejalan dengan penjelasan Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Fath al-Bari.
Beliau mengatakan:
وَلَكِنِ
الْأَيَّامُ الَّتِي يَحْدُثُ فِيْهَا حَوَادِثُ مِنْ نِعَمِ اللهِ عَلَى
عِبَادِهِ لَوْ صَامَهَا بَعْضُ النَّاسِ شُكْرًا مِنْ غَيْرِ اتِّخَاذِهَا
عِيْدًا كَانَ حَسَنًا اِسْتِدْلَالًا بِصِيَامِ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ عَاشُوْرَاءَ لَمَّا أَخْبَرَهُ الْيَهُوْدُ بِصِيَامِ مُوْسَى لَهُ
شُكْرًا ، وَبِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا سُئِلَ
عَنْ صِيَامِ يَوْمِ الْاِثْنَيْنِ قَالَ : " ذَلِكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ
وَأُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ
“Namun,
hari-hari yang di dalamnya terjadi suatu peristiwa yang merupakan nikmat Allah
bagi hamba-Nya, apabila sebagian orang berpuasa pada hari tersebut sebagai
bentuk rasa syukur, tanpa menjadikannya sebagai hari raya, maka hal itu
merupakan sesuatu yang baik. Hal ini didasarkan pada puasa Nabi SAW pada hari
Asyura ketika beliau mengetahui bahwa Nabi Musa berpuasa pada hari tersebut
sebagai bentuk rasa syukur. Demikian pula berdasarkan sabda Nabi SAW ketika
ditanya tentang puasa hari Senin: ‘Itu adalah hari ketika aku dilahirkan dan
pada hari itu pula wahyu diturunkan kepadaku.’” (Ibnu Rajab, Fath al-Bari,
1/88).
Dengan
demikian, puasa pada hari kelahiran dapat dipahami sebagai salah satu bentuk
syukur atas nikmat Allah SWT, selama pelaksanaannya tidak dimaksudkan untuk
menjadikan hari tersebut sebagai hari raya atau ritual khusus yang diwajibkan.
Penulis: Khazim Mahrur

Komentar0