![]() |
| Banjir bandang di masa Nabi Nuh AS (Ilustrasi by Gemini) |
Banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Nepal kini menjadi perhatian dunia. Banjir Nepal tersebut diawali dengan runtuhnya massa gletser dalam jumlah besar di kawasan sekitar puncak Langtang Lirung, Tibet. Lokasi ini berada sekitar 20 kilometer di sebelah timur laut perbatasan Nepal.
Terlepas dari peristiwa di atas, jauh sebelum berbagai bencana banjir modern terjadi, Al-Qur’an telah mengisahkan banjir dahsyat pada zaman Nabi Nuh AS. Banjir tersebut bukan sekadar genangan air biasa, melainkan sebuah peristiwa luar biasa yang menjadi azab bagi kaum Nabi Nuh yang terus membangkang dan mendustakan peringatan.
Menariknya, Al-Qur’an menggambarkan datangnya air dalam jumlah yang sangat besar dari dua arah. Dalam Surah Hud ayat 40, disebutkan bahwa ketika perintah Allah datang, “Kami membuka pintu-pintu langit dengan air yang tercurah,” sementara bumi diperintahkan untuk memancarkan air. Gambaran tersebut menunjukkan betapa dahsyatnya banjir yang terjadi pada masa itu.
Kisah tersebut tentu berbeda konteks dengan banjir di Nepal yang merupakan bencana alam pada masa kini. Namun, keduanya dapat menjadi pengingat tentang betapa besar kekuatan air dan betapa pentingnya manusia mengambil pelajaran dari setiap peristiwa. Lantas, apa sebenarnya dua sumber air yang disebut dalam kisah banjir Nabi Nuh dan bagaimana Al-Qur’an menggambarkan peristiwa tersebut?
Turun dari Langit
Berdasarkan keterangan Al-Qur’an dan penjelasan para mufasir, salah satu sumber air dalam banjir besar pada masa Nabi Nuh AS berasal dari langit. Allah SWT menggambarkan dahsyatnya peristiwa tersebut dalam firman-Nya:
فَفَتَحْنَآ اَبْوَابَ السَّمَاۤءِ بِمَاۤءٍ مُّنْهَمِرٍۖ
“Lalu, Kami membukakan
pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah.” (QS Al-Qamar Ayat
11).
Tafsir Kementerian Agama
menjelaskan bahwa ungkapan “membukakan pintu-pintu langit” menggambarkan hujan
yang turun dengan sangat deras dan berlangsung terus-menerus. Seolah-olah
pintu-pintu langit dibuka lebar sehingga air tercurah dalam jumlah yang sangat
besar. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa hujan pada masa itu memiliki
intensitas yang jauh melampaui hujan lebat pada umumnya.
Kata “مُنْهَمِرٍ” sendiri memiliki makna air yang tercurah
atau mengalir dengan deras. Dengan demikian, ayat tersebut memberikan gambaran
tentang derasnya curahan air dari langit sebagai bagian dari ketetapan Allah
SWT terhadap kaum Nabi Nuh yang tetap menolak kebenaran meskipun telah
mendapatkan dakwah dan peringatan dalam waktu yang panjang.
Peristiwa ini juga
memperlihatkan betapa mutlaknya kekuasaan Allah SWT atas alam semesta. Ketika
ketetapan-Nya telah datang, langit menjalankan perintah-Nya dan mencurahkan air
dalam jumlah yang luar biasa. Karena itu, banjir pada zaman Nabi Nuh tidak
hanya dipahami sebagai peristiwa alam, tetapi juga sebagai bagian dari azab
Allah terhadap kaum yang terus berada dalam pembangkangan.
Menyembur dari Dalam Bumi
Sumber air dalam banjir Nabi
Nuh AS ternyata tidak hanya berasal dari langit. Al-Qur’an juga menggambarkan
bahwa air muncul dari bumi dalam jumlah yang sangat besar. Allah SWT berfirman:
وَّفَجَّرْنَا
الْاَرْضَ عُيُوْنًا فَالْتَقَى الْمَاۤءُ عَلٰٓى اَمْرٍ قَدْ قُدِرَ ۚ
“Kami pun menjadikan bumi
menyemburkan banyak mata air. Maka, berkumpullah semua air itu sehingga (meluap
dan menimbulkan) bencana yang telah ditetapkan.” (QS Al-Qamar Ayat 12)
Ayat tersebut menggambarkan kelanjutan dari peristiwa banjir besar yang menimpa kaum Nabi Nuh AS. Setelah air tercurah deras dari langit, bumi pun mengeluarkan air melalui banyak mata air. Ungkapan “فَجَّرْنَا الْاَرْضَ عُيُوْنًا” menunjukkan gambaran bumi yang memancarkan air dari berbagai tempat, bukan hanya dari satu sumber tertentu.
Keadaan menjadi semakin
dahsyat ketika air yang berasal dari langit bertemu dengan air yang keluar dari
bumi. Keduanya kemudian berkumpul dan membentuk banjir besar sebagaimana yang
telah ditetapkan Allah SWT. Gambaran tersebut menunjukkan skala peristiwa yang
sangat luar biasa dan berada di luar kondisi alam yang biasa dikenal manusia.
Sementara itu, ungkapan “عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ” menegaskan bahwa seluruh kejadian tersebut berlangsung berdasarkan ketetapan Allah. Banjir itu bukan sebuah peristiwa yang terjadi tanpa tujuan, melainkan bagian dari keputusan-Nya terhadap kaum Nabi Nuh yang tetap menolak dakwah setelah berulang kali mendapatkan peringatan.
Kisah tersebut pada akhirnya tidak hanya menggambarkan kedahsyatan sebuah banjir, tetapi juga mengandung pelajaran bagi manusia. Ketika Allah SWT telah menetapkan suatu ketentuan, seluruh alam berada dalam kekuasaan dan perintah-Nya. Peristiwa banjir Nabi Nuh menjadi pengingat bahwa di balik kisah tersebut terdapat pelajaran moral dan spiritual yang dapat direnungkan oleh manusia sepanjang zaman.
FAQ (Frequently Asked Questions)
1. Apa dua sumber air dalam banjir Nabi Nuh?
Al-Qur’an menggambarkan dua sumber air dalam peristiwa banjir Nabi Nuh AS, yaitu air yang tercurah dari langit dan air yang memancar dari bumi.
2. Dari mana air banjir Nabi Nuh berasal?
Dalam QS Al-Qamar ayat 11, disebutkan bahwa Allah membuka pintu-pintu langit sehingga air tercurah dengan deras. Kemudian, QS Al-Qamar ayat 12 menjelaskan bahwa bumi juga menyemburkan banyak mata air.
3. Apa yang dimaksud dengan “pintu-pintu langit”?
Ungkapan tersebut menggambarkan derasnya curahan hujan yang turun ketika banjir Nabi Nuh AS terjadi. Air turun dalam jumlah yang sangat besar sesuai dengan ketetapan Allah SWT.
4. Apa makna bumi menyemburkan banyak mata air?
Frasa tersebut menggambarkan keluarnya air dari bumi dalam jumlah besar. Air dari bumi kemudian bertemu dengan air yang turun dari langit hingga terjadilah banjir besar.
5. Ayat Al-Qur’an mana yang menceritakan banjir Nabi Nuh?
Salah satu bagian yang secara jelas menggambarkan peristiwa tersebut terdapat dalam QS Al-Qamar ayat 11–12, yang menjelaskan air tercurah dari langit dan memancar dari bumi.
6. Apakah banjir Nabi Nuh hanya disebabkan oleh hujan?
Menurut gambaran dalam QS Al-Qamar ayat 11–12, tidak. Al-Qur’an menyebutkan dua sumber air, yaitu curahan air dari langit dan pancaran air dari bumi.
7. Apa pelajaran dari kisah banjir Nabi Nuh?
Kisah tersebut mengandung pelajaran tentang kekuasaan Allah SWT, akibat dari pembangkangan terhadap kebenaran, serta pentingnya mengambil hikmah dari berbagai peristiwa yang terjadi.
Penulis: Khazim Mahrur

Komentar0