![]() |
| Bulan Safar (Ilustrasi by Gemini) |
Bulan Safar merupakan bulan kedua
dalam kalender Hijriah setelah Muharam. Di sebagian masyarakat, bulan ini kerap
dikaitkan dengan kesialan.
Di bulan ini juga dianggap bulan
musibah, sehingga waktu ini tidak baik untuk melaksanakan sesuatu, seperti menggelar
pernikahan, memulai usaha, maupun melakukan perjalanan.
Namun, benarkah anggapan tersebut
berasal dari ajaran Islam? Berikut ini penjelasannya seperti detikilmu.com himpun
dari berbagai sumber, Selasa (30/06/26).
Asal-Usul Anggapan Bulan Safar sebagai Bulan Sial
Keyakinan bahwa Safar adalah
bulan sial telah ada jauh sebelum Islam datang. Pada masa Arab Jahiliah,
masyarakat mempercayai berbagai bentuk takhayul, termasuk menganggap bulan
tertentu membawa kesialan.
Mereka meyakini bahwa Safar
adalah waktu yang penuh malapetaka sehingga berbagai aktivitas penting
sebaiknya dihindari.
Secara bahasa, kata Safar berasal
dari bahasa Arab yang berarti "kosong" atau "sepi". Nama
ini dikaitkan dengan kebiasaan orang Arab pada masa itu yang meninggalkan rumah
mereka untuk bepergian atau berperang, sehingga rumah-rumah menjadi kosong.
Ada pula pendapat yang
menyebutkan bahwa sebagian masyarakat Arab mengaitkan Safar dengan penyakit
atau pertanda buruk, sehingga berkembanglah mitos mengenai bulan sial.
Islam Menolak Kepercayaan Tersebut
Ketika Islam datang, Rasulullah
SAW meluruskan berbagai kepercayaan yang tidak berdasar, termasuk anggapan
bahwa Safar membawa kesialan. Dalam hadis sahih disebutkan:
"Tidak ada penyakit yang
menular dengan sendirinya, tidak ada thiyarah (anggapan sial), tidak ada burung
hantu pembawa sial, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar." (HR.
Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut menegaskan bahwa
tidak ada bulan yang secara khusus membawa keberuntungan ataupun kesialan.
Semua yang terjadi di alam
semesta berlangsung atas kehendak Allah SWT, bukan karena pengaruh waktu atau
bulan tertentu.
Fakta Sejarah Bulan Safar
Alih-alih menjadi bulan sial, Safar justru mencatat sejumlah peristiwa penting dalam sejarah Islam. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa pada bulan ini terjadi berbagai momentum bersejarah
Peristiwa-peristiwa penting pada bulan itu yakni, pernikahan Rasulullah SAW dengan Khadijah, perniakahan Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah Az-Zahra, hijrahnya Rasulullah SAW ke Yatsrib dan lain sebagianya.
Kepercayaan terhadap kesialan bulan Safar termasuk bentuk takhayul yang tidak memiliki dasar dalam Al-Qur'an maupun hadis.
Islam mengajarkan umatnya untuk bertawakal kepada Allah SWT,
memperbanyak amal saleh, berdoa, dan tidak menggantungkan nasib pada waktu,
tempat, atau benda tertentu.
Dengan demikian, anggapan bahwa Bulan Safar adalah bulan sial hanyalah warisan tradisi masyarakat Arab Jahiliah yang telah diluruskan oleh Rasulullah SAW.
Seorang Muslim dianjurkan untuk
mengisi bulan Safar dengan ibadah, bekerja, belajar, dan menjalankan aktivitas
seperti biasa tanpa rasa takut terhadap mitos yang tidak memiliki landasan
syariat. (*)

Komentar0