![]() |
| Moh. Salah (kiri), kapten Timnas Mesir sebut kekalahan Mesir atas Argentina di Piala Dunia 2026 merupakan takdir Allah (Foto: Tangkap Layar YouTube TVRI) |
Itulah yang dialami kapten Timnas Mesir, Mohamed Salah, setelah timnya harus mengakui keunggulan Argentina dengan skor dramatis 2-3 pada babak 16 besar Piala Dunia 2026.
Mesir yang sempat unggul sementara 2-0 atas Argentina, akhirnya harus rela tersingkir setelah tim Tango membalikkan keadaan pada menit-menit akhir pertandingan.
Terima Kekalahan Sebagai Takdir Allah
Alih-alih larut dalam kekecewaan atau mencari kambing hitam atas kekalahan tersebut, Salah menunjukkan sikap yang menenangkan.
Ia menyatakan bahwa apa yang terjadi merupakan kehendak Allah dan harus diterima dengan lapang dada.
“Sangat tidak menguntungkan, tapi ini sudah berakhir. Ini adalah ketetapan dan kehendak Allah atas apa yang telah terjadi," ujarnya, dilansir ESPN FC, Rabu (08/07/26).
"Mari kita jadikan ini sebagai modal untuk berkembang, dan apa yang akan datang di depan akan jauh lebih baik, Insya Allah," sambungnya.
Sikap ini menjadi pengingat bahwa seorang Muslim tidak hanya dituntut berjuang dengan maksimal, tetapi juga menerima hasil akhir sebagai bagian dari takdir Allah Swt.
Menerima Takdir Merupakan Salah Satu Rukun Iman
Dalam Islam, meyakini takdir merupakan salah satu rukun iman. Seorang mukmin diperintahkan untuk berikhtiar sebaik mungkin, kemudian bertawakal dan ridha terhadap ketentuan Allah, baik yang sesuai dengan harapan maupun yang tidak.
Allah Swt. berfirman:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ
"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya." (QS. At-Taghabun [64]: 11)
Ayat ini mengajarkan bahwa setiap peristiwa yang terjadi berada dalam ilmu dan kehendak Allah. Keimanan kepada-Nya akan menuntun hati seseorang agar tetap tenang, tidak putus asa, dan mampu mengambil hikmah di balik setiap ujian.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجِزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ
"Bersungguh-sungguhlah dalam meraih sesuatu yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah. Jika sesuatu menimpamu, janganlah berkata, 'Seandainya aku melakukan ini tentu akan begini dan begitu.' Akan tetapi katakanlah, 'Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki pasti Dia lakukan.” (HR. Muslim No. 2664)
Hadis ini menggambarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Seorang Muslim tidak boleh pasrah sebelum berusaha, tetapi setelah segala upaya dilakukan, ia diperintahkan menerima hasilnya dengan penuh keikhlasan.
Berikan Keteladanan Tingkat Tinggi
Keikhlasan menerima takdir bukan berarti menyerah pada keadaan. Justru, sikap tersebut menjadi sumber kekuatan untuk bangkit, memperbaiki diri, dan kembali berjuang.
Kekalahan hari ini bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses yang telah Allah tetapkan untuk mendewasakan hamba-Nya.
Sikap Mohamed Salah setelah kekalahan dari Argentina memberikan pelajaran berharga bahwa prestasi dan kegagalan sama-sama merupakan ujian.
Ketika memperoleh kemenangan, seorang Muslim diperintahkan untuk bersyukur. Sebaliknya, ketika mengalami kekalahan, ia dituntut bersabar dan tetap berbaik sangka kepada Allah.
Pada akhirnya, kemenangan terbesar bukan hanya soal mengangkat trofi, tetapi juga kemampuan menjaga keimanan dan kelapangan hati dalam menerima setiap ketentuan Allah.
Sebab, sebagaimana diajarkan Islam, hasil akhir adalah hak Allah, sedangkan kewajiban manusia adalah berusaha sebaik mungkin dan menerima keputusan-Nya dengan penuh keikhlasan. (*)

Komentar0